News Update :
::

Pilihan

Khas Bogor

Partai Keadilan Sejahtera

PKS Bagikan Santunan di Kebon Kopi Kecamatan Citeureup

Wednesday, April 22, 2015

Puspasari, Ahad, 19 April 2015. DPC PKS Kecamatan Citeureup menyelenggarakan bakti sosial dengan memberikan santunan kepada anak yatim dan pembagian sembako kepada masyarakat yang membutuhkan di Kampung Kebon Kopi RT 01 RW 08 Desa Puspasari. Pembagian santunan dan sembako ini meliputi RT 01, RT02, RT03 yang berada di wilayah RW 08 dan RT 02 RW 04 kelurahan Puspanegara. 

Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 ini diselenggarakan di rumah Ibu Ketua RW 08 cukup meriah karena tidak hanya pembagian santunan saja, namun juga ada kegiatan seremonial yang disertai game dan door prize. 


Masyarakat datang penuh antusias meskipun cuaca cukup panas dari teriknya matahari. “Saya sangat mendukung kegiatan yang diselenggarakan oleh PKS ini. Selain masyarakat memang membutuhkan kegiatan seperti ini. Program baksos ini betul betul kegiatan sosial yang sangat dirasakan masyarakat secara langsung. Padahal PILKADA masih jauh, ini berbeda dengan yang sudah sudah, hanya datang saat kampanye sudah dekat” ungkap ibu Nurhasanah ketua RW 08 dengan penuh semangat di tengah kesibukannya membantu panitia.


H. Amin Tasyakur sebagai ketua DPC Kecamatan Citeureup menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan ini merupakan rangkaian kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan bergantian di setiap DPRa di Kecamatan Citeureup. Jadi penanggung jawab kegiatan adalah ketua DPRa masing masing.


Apa Kata Mereka?

Mamah Dori Warga RT 01 RW 08 :

Saya senang dengan adanya program santunan dan pembagian sembako ini. Kalau bisa PKS menyelenggarakan menyelenggarakan lagi kegiatan seperti ini

Ibu Yati Warga RT 01 RW 08 :

Kegiatan Baksos sebaiknya jangan berhenti sampai disini. Kalau bias adakan tiap bulan

Bapak Dadang Ketua RT 03 RW 08 :

Pembagian santunan dan sembako ini adalah program yang bagus. Masyarakat banyak yang membutuhkannya. Bagusnya PKS bukan hanya berpolotik tapi ada pengajiannya juga. Saya mengajak, “Mari kita dengarkan wejangan wejangan dari PKS” 

Berikut sebagian foto-foto liputannya :




[Musleh - Humas DPC Citeureup]

"PKS, Keislaman & Keindonesiaan, Tradisionalis & Modern" by @anismatta

Tuesday, April 21, 2015

"PKS, Keislaman & Keindonesiaan, Tradisionalis & Modern" by @anismatta







Alhamdulillah, hari ini (20/4/2015) PKS mencapai usianya yg ke-17.. Usia yg bisa dibilang muda dan perjalanan yg belum panjang.. #PKSweet17

PKS dibangun oleh komunitas dakwah yg ingin memberi warna bagi Indonesia yg sedang memulai reformasi dan demokratisasi..

PKS juga ingin menjadi saluran aspirasi politik Islam yg keluar dari dikotomi "tradisionalis" vs "modern"..

Di PKS ada yg punya akar tradisionalis, ada yg bertradisi Islam modernis..

Semua memberi warna dlm eksperimen memadukan keislaman dan keindonesiaan di ranah politik..

Politik bisa dibilang hanya salah satu ranah gerakan, karena kami juga berkiprah di pendidikan dan sosial..

PKS masih muda.. Baru 17 thn dan baru 4 kali ikut Pemilu (termasuk PK).. Ini saat yg tepat utk membuka diri thd masukan dari semua pihak..

Dgn kerendahan hati sy mohon kritik dan saran utk PKS yg lebih baik di masa mendatang.. Silakan mention akun saya dgn tagar #saranPKS

Kami perlu lbh banyak vitamin dan gizi utk bisa tumbuh lbh cepat dan lebih dewasa..

Nanti akan saya kompilasi dan bahas masukan dr Anda sekalian.. Terima kasih sebelumnya.. Jazakumullahu khairan katsira..


*dari twit @anismatta

Twit Tiff


Assalamu'alaikumwrwb, Jadilah diri anda sendiri. Tak usah terbuai oleh tepuk tangan dan gendang orang lain. Siapa menanam dia akan mengetam.

Kartini Tekun Belajar Agama Islam

Kartini Tekun Belajar Agama Islam
Oleh : Cahyadi Takariawan
http://www.pkspiyungan.org/2015/04/kartini-tekun-belajar-agama-islam.html



Pada setiap bulan April, masyarakat Indonesia selalu mengingat dua kosa kata berikut: emansipasi dan Kartini. Sebenarnya apa itu emansipasi, dan siapakah Kartini? Mengapa keduanya harus selalu berhubungan? Kita coba memahami keduanya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan makna emansipasi  dengan dua pengertian (1) pembebasan dari perbudakan; (2) persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria). Kartini adalah tokoh wanita Indonesia. Demikian penjelasan dari KBBI Online. Wikipedia Indonesia memuat makna emansipasi sebagai berikut: “emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu”.

Dari penjelasan tersebut, bisa dipahami bahwa yang dimaksud dengan emansipasi adalah persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Namun, apakah Kartini pernah menyebut kata ‘emansipasi’? Ternyata tidak. Itu bukan istilah yang digunakan oleh Kartini untuk menyebut sisi perjuangan yang dilakukan. Jika pun Kartini disebut sebagai tokoh yang mengusung emansipasi, pasti tidak pernah bisa dilepaskan dari latar belakang dan kultur yang berada di sekitarnya. Kartini mewakili bangsawan Jawa, sosok ningrat yang dikekang dengan berbagai aturan tradisi.

Kartini lahir di desa Mayong, Kabupaten Jepara, 21 April 1879 dan meninggal dunia di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Sebagai anak seorang bupati, Kartini hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa.

Ahmad Mansur Suryanegara mencatat, “Sebagai keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan begitu melekat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun bagi Kartini, ikatan adat istiadat yang telah berurat akar dalam itu, dianggap mengekangnya sebagai perempuan. Setelah tamat dari sekolah ELS Kartini memasuki masa pingitan. Sementara itu, Kartini merasakan betul betapa haknya mendapatkan pendidikan secara utuh dibatasi. Di luar, ia melihat pendidikan Barat-Eropa begitu maju”.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Kartini dan Perjuangan Kaum Perempuan

Perjuangan Kartini kita kenal tertuang dalam buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911.

Buku ini dianggap sebagai pemikiran besar yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Konon, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu. Benarkah klaim ini? Klaim yang selalu diajarkan di semua sekolah kita setiap memperingati Hari Kartini.

Padahal dua abad SEBELUM Kartini lahir, di Kerajaan Aceh Darussalam sudah ada empat perempuan yang menjadi Sultan (Sultanah) dari 31 Sultan yang ada. Mereka adalah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memerintah tahun 1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), dan Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H). Aceh dipimpin oleh Sultanah perempuan selama empat periode (1641-1699 M). Posisi Sultanah menjadi bukti nyata bahwa kaum perempuan di Indonesia sejak lama sudah memiliki pemikiran yang maju dan perjuangan yang besar.

Jika Raden Ajeng Kartini berdiskusi melalui surat menyurat dengan Abendanon, maka para perempuan Aceh sudah berperang melawan penjajah bersama para lelaki, bahkan beberapa di antara mereka menjadi Panglima Perang memimpin kaum laki-laki. Di antara yang sangat terkenal adalah Laksamana Malahayati yang gagah berani dalam memimpin armada laut Kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugis. Malahayati tercatat sebagai Laksamana Perempuan Pertama di dunia. Dialah yang memimpin armada perang Kesultanan Aceh menggempur armada-armada Portugis dan Belanda di Selat Malaka. Armadanya terdiri dari 100 buah kapal. Tiap kapal terdiri dari 400 - 500 pasukan.

Malahayati hidup di masa Kerajaan (Kesultanan) Atjeh dipimpin oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV yang memerintah antara tahun 1589 -1604 M. Malahayati pada awalnya dipercaya sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan luar istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Meunasah/ Pesantren, beliau meneruskan pendidikannya ke Akademi Militer Kerajaan, “Ma’had Baitul Maqdis”, akademi militer yang dibangun dengan dukungan Sultan Selim II dari Turki Utsmaniyah.

Akademi ini didukung oleh 100 dosen angkatan laut yang sengaja didatangkan dari kerajaan Turki tersebut. Disini pula dirinya bertemu jodohnya sesama kadet yang akhirnya menjadi Laksamana, namun sampai kini nama suaminya belum dapat diketahui dengan pasti. Lulus dari akademi, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam, begitu juga dengan suami yang diangkat menjadi Laksamana.

Nama Malahayati sangat ditakuti oleh Armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Karena Malahayati lah yang berhasil membunuh Cornelis De Houtman di tahun 1599. Cornelis De Houtman adalah orang Belanda yang pertama kali menancapkan kuku imperialisme di Indonesia. Sungguh sangat sulit mencari perempuan segagah Malahayati di zaman sebelumnya atau sesudahnya.

Yang relatif satu generasi dengan Kartini, juga sangat banyak tokoh perempuan lainnya. Di Aceh ada Cut Nyak Din (1848 – 1908), yang memimpin perang melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, syahid. Kita juga mengenal Teungku Fakinah (1856 – 1938), seorang ustadzah yang memimpin resimen laskar perempuan dalam perang melawan Belanda. Bahkan usai perang, Teungku Fakinah mendirikan pusat pendidikan Islam bernama Dayah Lam Diran.

Kita mengenal Cut Meutia (1870 – 1910), yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya dalam belukar hutan Pase dan akhirnya meninggal dunia karena bersumpah tidak akan menyerah hidup-hidup kepada  Belanda. Ada pula Pocut Baren (1880 – 1933), seorang pemimpin gerilya yang sangat berani dalam perang melawan Belanda di tahun 1898-1906. Berikutnya Pocut Meurah Intan, yang juga sering disebut dengan nama Pocut Biheu, bersama anak-anaknya—Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin—berperang melawan Belanda di hutan belukar hingga tertawan setelah terluka parah di tahun 1904.

Sejarah juga mencatat Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri ulama besar Teungku Chik Mata Ie yang bersama suaminya bernama Teungku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia syahid, hingga dalam pertempuran tanggal 22 Februari 1912, Cutpo Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan diterjang peluru Belanda.

Salah seorang pemimpin gerilya Aceh Darussalam, Pocut Baren, namanya diabadikan menjadi nama sebuah resimen laskar perempuan Aceh “Resimen Pocut Baren” yang merupakan bagian dari Divisi Pinong di Aceh semasa revolusi fisik melawan Belanda. Resimen perempuan Aceh ini sangat ditakuti Belanda karena terkenal tidak pernah mundur atau pun melarikan diri dalam setiap pertempuran. Mereka bahkan pantang menyerah hidup-hidup kepada penjajah.

Sangat mungkin, disebabkan ruang gerak perempuan Aceh yang sangat luas, maka mempengaruhi cara berpakaian mereka. Prof. Dr. Hamka menulis, “Di seluruh tanah air kita ini, hanya di Aceh pakaian asli perempuan memakai celana. Sebab mereka pun turut aktif dalam perang. Mereka menyediakan perbekalan makanan, membantu di garis belakang dan pergi ke medan perang mengobati yang luka.”

Buya Hamka juga menyatakan, “Pikirkanlah dengan dalam! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang. Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin bersama menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau Feminisme zaman modern sekarang ini.”

Sangat Banyak “Kartini” Lainnya

Kita ingat Sekolah Kartini baru berhasil didirikan tahun 1915, setelah 11 tahun dari wafatnya Kartini. Bisa dikatakan Kartini belum berhasil mewujudkan cita-cita besarnya saat masih hidup. Kedua adiknya --yaitu Kardinah dan Rukmini-- dibantu oleh TH Van Deventer serta JH. Abendanon yang mewujudkan mimpi-mimpi Kartini melalui Yayasan Kartini. Berbeda dengan Rohana Kudus. Ia berhasil mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia di tahun 1911 ketika Rohana berusia 27 tahun.

Rohana Kudus (1884-1972) hidup sezaman dengan Kartini, usianya lebih muda lima tahun. Ketika Kartini mencetuskan ide-ide perjuangannya melalui korespondensi surat dengan para sahabat Belandanya, maka Rohana mengeluarkan ide-ide perjuangannya melalui koran yang ia pimpin. Rohana Kudus mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916). Selain itu ia menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis perempuan pertama di negeri ini. Rohana Kudus menyebarkan idenya melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Jika Kartini dianggap memiliki pembelaan yang kuat terhadap Islam, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”, begitu kata Rohana Kudus.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum perempuan. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Sekolah ini merupakan Sekolah Perempuan pertama di tanah Jawa, bahkan Sekolah Perempuan pertama se-Hindia Belanda. Sekolah ini bediri di tahun wafatnya Kartini.

Di Sulawesi Selatan tercatat nama Siti Aisyah We Tenriolle, seorang Ratu dari Kerajaan Tanette yang menjadi ratu perempuan terlama di Indonesia (1855-1910). Siti Aisyah We Tenriolle adalah seorang ratu yang cerdas. Tak hanya cakap di bidang pemerintahan, ia juga berhasil menyelamatkan sastra warisan dunia I La Galigo. Suatu epos terpanjang di dunia.

I La Galigo adalah suatu sajak mahakarya, yang mencakup lebih dari 6.000 halaman folio. Setiap halaman naskah tersebut terdiri dari 10-15 suku kata yang berarti cerita I La Galigo ditulis dalam sekitar 300.000 baris panjangnya. Satu setengah kali lebih panjang dari epos terbesar anak Benua India, Mahabharata yang hanya terdiri dari 160.000-200.000 baris.
Tidak hanya cerdas di bidang kesusateraan, Siti Aisyah We Tenriolle juga cerdas di bidang pemerintahan dan pendidikan. Aisyah berhasil mendirikan sekolah bagi rakyatnya. Sekolah tersebut  tidak hanya diperuntukan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. Meski kurikulumnya masih sangat sederhana, hanya membaca, menulis dan berhitung tapi pada masa itu tergolong sudah sangat hebat.

Karena pada masa itu anak perempuan banyak tidak bersekolah. Aisyah lah tokoh yang pertama kali mendirikan sekolah yang menerima murid putra dan putri dalam satu kelas. Dia berhasil mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi laki-laki dan perempuan jauh sebelum Kartini dilahirkan. Aisyah menginginkan rakyatnya melek pendidikan, tidak terkecuali perempuan.

Ternyata, para tokoh perempuan itu semua sudah sederajat dengan kaum laki-laki dalam berbagai dinamika kehidupan, baik sebelum era Kartini, maupun pada era Kartini. Sudah ada perempuan menjadi Sultan di Kerajaan Aceh selama empat periode kepemimpinan. Sudah ada perempuan menjadi Laksamana Perang. Sudah ada perempuan menjadi Sultan di Sulawesi Selatan. Sudah ada perempuan mendirikan koran dan sekolahan. Kartini bahkan hanya ‘surat-suratan’ saja. Tidak mendirikan sekolahan, tidak membuat koran, tidak memimpin perang melawan penjajahan.

Kartini Tekun Belajar Agama Islam

Kartini mengalami proses pembelajaran Islam yang sangat terbatas. Pada awalnya ia hanya mendapatkan pengajaran baca tulis Al Qur’an, namun tidak diberi penjelasan makna dari apa yang ditulis dan dibaca tersebut. Hal ini tampak dari surat Kartini kepada Stella:

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

“Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902).

Suatu ketika, Kartini menghadiri pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat yang juga adalah pamannya. Pengajian dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, atau dikenal Kyai Soleh Darat, tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertarik sekali dengan materi yang disampaikan. Usai pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Berikut ini dialog Kartini sebagaimana ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.

Kartini: “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”

Kyai Soleh: “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

Kartini: “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah pertemuan itu Kyai Soleh Darat mulai menuliskan terjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan Kartini, Kyai Soleh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran yang diberi judul “Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran”, jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Kartini mulai mempelajari Islam melalui kitab yang ditulis Kyai Soleh Darat. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Soleh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.

Kartini belum mengenal “tarbiyah”, belum mengenal bimbingan keislaman yang intensif. Kartini belum bertemu ustadz dan ustadzah yang berkafa’ah syar’i yang bisa membimbingnya secara rutin dalam kajian Islam pekanan. Maka pemahaman keislamannya masih sangat terbatas, namun ia memiliki semangat yang tampak dari berbagai tulisan suratnya.

Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya, minazh zhulumati ilan nur. Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata itu. “Dari kegelapan menuju cahaya”. Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “dari gelap menuju cahaya” ini. Istilah “dari gelap menuju cahaya” yang dalam Bahasa Belanda adalah “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan makna setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Akhirnya sampailah, “Hari yang membawa perubahan dalam jiwa kami. Sudah kami dapatkan Dia (Allah, pen) yang bertahun-tahun lamanya didahagakan oleh jiwa kami dengan tiada setahu diri.” Selanjutnya Kartini menyatakan kepada E. C. Abendanon. ”Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al-Qur’an, pen) di samping kami” (15 Agustus 1902).

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, Al-Qur’an yang dikaji Kartini telah menumbuhkan sikap baru, “Kami bersedia, bersedia berbuat apa juapun, bersedia memberikan diri kami sendiri.” Selanjutnya Kartini bersedia berkorban dan korbannya ini dinilai sebagai, “Bersedia menerima: luka hati, air mata darah akan mengalir banyak-banyak, tetapi tiadalah mengapa: kesemuanya itu akan membawa ke arah kemenangan. Manakah akan terang, bila tiada didahului gelap gulita. Hari fajar lahir pada malam” (17 Agustus 1902).

Jadi, Apa Perjuangan Kartini?

Jadi, bagaimana kita bisa menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti paradigma Barat? Apa ini bukan propaganda Barat untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam mencerahkan perempuan Indonesia melalui Kartini? Kasihan Kartini, kalau kita posisikan seperti ini. Nyatanya, Kartini bahkan menyerang peradaban Barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902:

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?“

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902).

Yang diperjuangkan Kartini adalah pengajaran dan pendidikan untuk kaum perempuan. Bukan memperjuangkan emansipasi. Perhatikan surat Kartini berikut:

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama" (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902).

Sebagai seorang muslimah, Kartini juga menyerang upaya Kristenisasi terhadap umat Islam yang dilakukan penjajah Belanda. “Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903).

Ahmad Mansur Suryanegara memberikan catatan, “Di tengah perjuangannya menentang adat dan mencari ajaran agama, Kartini mendapatkan semacam ajaran agama Kristen dari Ny. van Kol. Tetapi Kartini sekalipun masih muda, namun tidaklah kehilangan identitasnya sebagai pemeluk agama islam. Tidak silau dan terpukau oleh kemajuan Barat, Kartini menunjukkan kematangan sikapnya: ‘Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami (Agama Islam, pen) yang sekarang ini’ (21 Juli 1902). Demikianla jawaban Kartini menolak ajakan Ny. van Kol”.

Jika Kartini sekarang masih hidup, sepertinya beliau akan sedih melihat peringatan Hari Kartini selalu dikaitkan dengan emansipasi seperti yang dipahami masyarakat Indonesia sekarang ini. Seakan dia mengajak berperang melawan kaum laki-laki untuk menuntut persamaan hak. Padahal Allah sudah memberikan persamaan hak, derajat dan posisi antara laki-laki dan perempuan, tanpa harus dituntut. Kartini bahkan berjuang untuk membuat Islam bisa diterima secara baik oleh umat lain.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902).

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh)” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903).

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan” (Surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903).

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia punm ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900).
Bahkan peradaban Barat tidak memberikan contoh perjuangan emansipasi seperti yang diopinikan selama ini. Lihat saja Amerika Serikat yang sudah berusia lebih dari duaratus tahun, Presidennya selalu laki-laki. Belum ada perempuan yang dianggap pantas untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Lebih maju Indonesia dong...:)

Jadi, apa sebenarnya emansipasi itu? Dan siapa yang memperjuangkannya? Bahkan Kartini sendiri mungkin tidak mengerti.

___ 
Bahan Bacaan :
- A. Mansur Suryanegara, Kartini Dan Pembaharuan Pemikiran Dalam Islam, Panji Masyarakat No. 358 Th XXIII hal 38 – 40: 1 Mei 1982, 7 Rajab 1402 H.
- Cahyadi Takariawan, Terlalu Banyak Pahlawan Perempuan, Bukan Hanya Kartini, dalam http://www.kompasiana.com
- Rizki Ridyasmara, Emansipasi Wanita, dalam  http://www.eramuslim.com
- Tiar Anwar Bahtiar, MA, Mengapa Harus Kartini?, dalam http://www.republika.co.id
- Widi Astuti, Tak Hanya Kartini, dalam http://serbasejarah.wordpress.com
- http://kbbi.web.id/emansipasi
- http://id.wikipedia.org/wiki/Emansipasi
- http://id.wikipedia.org/wiki/Rohana_Kudus
- http://strategi-militer.blogspot.com/2012/07/laksamana-malahayati-adalah-laksamana.html
- http://lenteratimur.com/we-tenri-olle-ratu-cendekia-dari-tanete/
- http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/657-dewi-pendidikan-dari-cicalengka
- http://www.bin.go.id/wawasan/detil/308/3/18/09/2014/malahayati-admiral-perempuan-pertama-di-dunia#sthas

Mengenang Kartini Bukan Sekedar dengan Sanggul dan Kebaya

dakwatuna.com – Jakarta. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ledia Hanifa Amalia mengingatkan puluhan tahun memperingati Hari Kartini seharusnya memberi jejak lebih terang pada proses pemberdayaan perempuan Indonesia.
“Sejak 1964 kita memperingati Hari Kartini, semestinya semakin menguatkan proses pemberdayaan perempuan Indonesia secara utuh. Yakni, memunculkan perempuan-perempuan Indonesia yang sehat, cerdas, bertakwa, berbudi luhur dan aktif memberikan peran terbaik mereka bagi kemajuan bangsa,” kata Ledia, dalam siaran persnya kepada dakwatuna.com, Jakarta, Selasa (21/4).
Ledia menjelaskan, perjuangan Kartini perlu dilihat dalam konteks zamannya. Yakni, Kartini hidup di masa yang begitu sulit bagi perempuan untuk berkarya. Menurutnya, pemikiran-pemikiran Kartini yang kemudian tertulis dalam surat-suratnya menggambarkan sebuah mimpi sekaligus idenya bagi perjuangan peningkatan kualitas hidup kaum perempuan.
“Dalam kondisi budaya yang masih kuat mengungkung perempuan, Kartini telah memvisualisasikan mimpi dan idenya yang besar bagi peningkatan hidup perempuan, dan tidak hanya itu, beliau juga membuka sekolah bagi kaum perempuan. Sebuah aksi nyata yang sangat tidak mudah diwujudkan bila kita melihatnya dalam kacamata situasi kurun itu,” ujar Ledia
Karena itu, Ledia mengimbau, agar setiap kali peringatan Hari Kartini dilangsungkan, semangat pemberdayaan perempuan dan peningkatan kualitas hidup perempuan selayaknya menjadi tema utama. Karena itu dalam setiap peringatan Hari Kartini, menurut legislator daerah pemilihan (dapil) Kota Bandung dan Kota Cimahi ini, sangat mungkin bila dikaitkan dengan aksi atau program penurunan angka kematian ibu, peningkatan gizi keluarga, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pengelolaan keuangan rumah tangga, pendampingan usaha kecil kaum perempuan dan lain-lain.
“Kita perlu memaknai perjuangan Kartini secara lebih konkrit dan aplikatif untuk kemajuan bangsa saat ini, jangan terpaku pada imbauan mengenakan pakaian daerah sehingga terkesan peringatan Hari Kartini akhirnya berujung pada sanggul dan kebaya,” pungkas Ledia. (abr/dakwatuna)

Doa Empat Ribu Tahun, oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 07/06/2013

Friday, April 17, 2015



“Ya RasulaLlah”, begitu suatu hari para sahabat bertabik saat mereka menatap wajah beliau yang purnama, “Ceritakanlah tentang dirimu.”
Dalam riwayat Ibn Ishaq sebagaimana direkam Ibn Hisyam di Kitab Sirah-nya; kala itu Sang Nabi ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan beberapa kalimat. Pembukanya adalah senyum, yang disusul senarai kerendahan hati, “Aku hanyasanya doa yang dimunajatkan Ibrahim, ‘Alaihissalam..”
Doa itu, doa yang berumur 4000 tahun. Ia melintas mengarungi zaman, dari sejak lembah Makkah yang sunyi  hanya dihuni Isma’il dan Ibundanya hingga saat 360 berhala telah menyesaki Ka’bah di seluruh kelilingnya. Doa itu, adalah ketulusan seorang moyang untuk anak-cucu. Di dalamnya terkandung cinta agar orang-orang yang berhimpun bersama keturunannya di dekat rumah Allah itu terhubung dan terbimbing dari langit oleh cahayaNya.
“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaqksana.” (QS Al Baqarah [2]: 129)
“Kata adalah sepotong hati”, ujar Abul Hasan ‘Ali An Nadwi, maka doa adalah setetes nurani. Ia disuling dari niat yang haru dan getar lisan yang syahdu. Ia dibisikkan dengan tadharru’ dan khufyah; dengan berrendah-rendah mengakui keagungan Allah dan berlirih-lirih menginsyafi kelemahan diri. Dalam diri Ibrahim, kekasih Ar Rahman itu, doanya mencekamkan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.
Maka dari doa itu kita belajar; bahwa yang terpenting bukan seberapa cepat sebuah munajat dijawab, melainkan seberapa lama ia memberi manfaat. Empat ribu tahun itu memang panjang. Tapi bandingkanlah dengan hadirnya seorang Rasul yang tak hanya diutus untuk penduduk Makkah, tapi seluruh alam; menjadi rahmat bukan hanya bagi anak-turunnya, tapi semesta; membacakan ayatNya bukan hanya dalam kata, tapi dengan teladan cahaya; mensucikan jiwa bukan hanya bagi yang jumpa, tapi juga yang merindunya; dan mengajarkan Kitab serta Hikmah bukan hanya tuk zamannya, tapi hingga kiamat tiba.
Dari doa itu kita belajar; bahwa Allah Maha Pemurah; tak dimintaipun pasti memberi. Maka dalam permohonan kita, bersiaplah menerima berlipat dari yang kita duga. Allah Maha Tahu; maka berdoa bukanlah memberitahu Dia akan apa yang kita butuhkan. Doa adalah bincang mesra, agar Dia ridhai untuk kita segala yang dianugrahkanNya.
Dalam syukur pada 2 orang yang disebut ‘Uswatun Hasanah’ itu, kita teringat shalawat yang diajarkan Muhammad ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam dengan rendah hati; mengenang bapak para Nabi yang atas doanyalah beliau diutus. Maka tiap kebaikan yang dipancarkan Muhammad hingga hari kiamat, Ibrahim memegang sahamnya.
Dan kita yang rindu pada Sang Nabi untuk disambut di telaganya, diberi minum dengan tangannya, dinaungi bersamanya, dan beroleh syafa’atnya; mari tak bosan membaca, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala Ali Muhammad; kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Ali Ibrahim..”
sepenuh cinta {dimuat dalam UMMI edisi Juni}
Salim A. Fillah


Seminar Islamic Parenting : "Harmonisasi Peran Ayah dan Ibu dalam Mendidik Anak"

Wednesday, April 15, 2015

Seminar Islamic Parenting  “Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) bekerjasama
dengan dengan DKM AL-Kautsar dan TPQ Az-Zahra”.

Citeureup, Ahad 12 April 2015, Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) bekerjasama dengan dengan DKM AL-Kautsar dan TPQ Az-Zahra, mengadakan Seminar Islamic Parenting dengan tema "Harmonisasi Peran Ayah dan Ibu dalam Mendidik Anak" yang berlangsung di Auditorium Masjid Al-Kautsar Citeureup. Dalam acara tersebut menghadirkan pembicara  seorang Pemerhati Dunia Pendidikan Anak dan penulis buku "Energi Cinta untuk Keluarga" Bapak DR. Adi Junjunan Mustafa dan Istri beliau Ibu Liawati.

Kegiatan yang dihadiri sebagian besar oleh kalangan orangtua membahas tentang membentuk sebuahkeluarga harmonis dengan menerapkan visi keluarga, menciptakan kondisi keluarga dengan MESRA (Mendidik, Empati, penuh Senyum, Rapi, Aktif dalam kebaikan), juga berbagi pengalaman dalam membuat program-program pendidikan anak dengan kecerdasan spiritual religius dan kecerdasan emosional.


Semoga tujuan kegiatan ini dapat tercapai untuk mengeratkan kembali keharmonisan hubungan suami dan istri sebagai orangtua; meningkatkan kesadaran dan peran orangtua sebagai panutan, cermin utama, motivator, dan fasilitator anak; meningkatkan kemampuan dan keterampilan diri dalam mengelola pola pendidikan terbaik untuk anak-anaknya; dan membuat program-program keluarga yang berkesinambungan untuk meningkatkan potensi keluarga terutama anak. Panitia pun berharap ada program selanjutnya yang memfasilitasi para orangtua untuk bisa saling berbagi pengetahuan dan informasi seperti membentuk sebuah komunitas parenting.

Rembulan Dalam Pangkuan

Tuesday, April 14, 2015



dakwatuna.com - Seorang Yahudi yang nasabnya masih berasal dari keturunan Nabi Yaqub as dan masih merupakan keturunan dari Nabi Harun as. Wanita yang terpandang, cerdas, cantik dan rupawan, dan berasal dari keluarga terhormat, Shafiyyah. Shafiyyah berasal dari keturunan Yahudi Khaibar, Ayahnya Huyay bin Akhtab adalah tokoh terkemuka di sana.
Salah satu alasan kaum Yahudi membenci Rasulullah adalah karena rasa iri dan cemburu mereka, bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW bukan berasal dari kaum mereka, namun dari bangsa Arab, sedangkan mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah anak anak dan kesayangan Allah, serta bangsa pilihan Allah di muka bumi. Oleh karena itulah bangsa Yahudi sangat membenci Rasulullah, dan memusuhinya. Shafiyyah, menyaksikan sendiri betapa besar kebencian ayahnya terhadap Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Huyay bin Akhtab adalah orang yang menjadi provokator dan merancang konspirasi keji bersama kaum Quraisy yang memusuhi Rasulullah, dan bani Quraizhah untuk bekerjasama membunuh Rasululah, namun usaha itu gagal.
Shafiyyah juga menyaksikan betapa suaminya Khinanah dan kaum Yahudi Khaibar melakukan berbagai cara untuk memusuhi Rasulullah dan berusaha membunuh beliau, hingga akhirnya dalam Perang Khaibar Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin, kaum Muslimin berhasil menggempur benteng benteng Khaibar yang terkenal kokoh. Shafiyyah adalah termasuk barisan wanita yahudi yang berada dalam tawan seorang sahabat seusai perang tersebut, Dihyah Al Kalbi.
Rasulullah akhirnya menikahi Shafiyyah dengan memerdekakan Shafiyah sebagai maharnya, Shafiyyahpun menjadi Istri Rasulullah SAW. Shafiyyah begitu bahagia, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang Mukmin, apalagi Ummul Mukminin, kebahagiaan yang tidak dapat ia lukiskan dengan kata kata. Shafiyyah dikenal sebagai wanita yang berhati mulia, dan berhati lembut, berusaha dengan giat mengejar ketertinggalannya untuk mempelajari Islam, dan memiliki kedudukan yang tinggi di hati Rasulullah SAW. Shafiyyah menghabiskan hidupnya dengan berdakwah dan berbuat baik, hasrat hatinya adalah selalu ingin membuat orang lain bahagia.
Shafiyyah adalah bukti Kebesaran dan Kasih sayang Allah terhadap semua makhluknya. Shafiyyah bukanlah orang yang pertama kali masuk ke dalam barisan Agama yang diridhai Allah ini, ia adalah keturunan bangsa Yahudi yang sangat membenci dakwah Rasulullah. Meskipun Ayahnya dan Suaminya adalah orang yang sangat terkenal dengan kebencian terhadap Rasulullah, tidak ada sirah yang menceritakan kebencian yang timbul di hati Shafiyyah terhadap Rasulullah dan Agama ini. Sungguh ini adalah bukti kekuasaan Allah untuk memberikan Petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki.
Keistimewaan lain dari Shafiyyah adalah pertanda yang diberikan Allah bahwa ia akan menjadi Istri Rasulullah. Ibnu Umar ra. Menuturkan, “saat itu, disekitar mata Shafiyyah tampak lembam, sehingga Rasululah menanyakannya, ‘kenapa di sekitar matamu ada lebam seperti ini?’, Shafiyyah menjawab, ‘waktu itu aku berkata pada suamiku dulu, Sesungguhnya aku bermimpi melihat bulan turun ke pangkuanku. Tiba tiba dia menamparku seraya berkata, ‘apakah engkau menginginkan Raja Yastrib itu?’, Shafiyyah berkata kepadaku (Ibnu Umar), ‘hingga saat itu tidak ada orang yang lebih aku benci dari pada Rasulullah, bagaimana tidak, beliau telah membunuh ayahku dan suamiku. Akan tetapi Rasulullah tidak berhenti untuk meminta maaf kepadaku dan mengutarakan alasannya, “wahai Shafiyyah, masalahnya, Ayahmu memprovokasi seluruh kekuatan Arab untuk membunuhku, lalu begini, begini…., beliau terus memahamkanku sehingga rasa benciku kepada beliau benar benar hilang’”.
Banyak hikmah yang dapat kita gali dari kisah Ummul Mukminin yang satu ini, di antaranya kesucian dan keluruhan hatinya memandang Islam, meskipun ia dikelilingi oleh orang orang yang membenci Agama Allah ini, dan hikmah-hikmah lainnya yang dapat kita petik dengan mengkontekskannya dalam kehidupan kita sehari hari.
Semoga kita termasuk orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah, karena sesungguhnya “… barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk padanya..” (QS. Al Kahfi : 17)”
Rujukan: 35 Sirah Shahabiyah jilid 1 Mahmud Al Mishri

Profile Tokoh

More on this category »

Video

More on this category »
 
::
© Copyright PKS Bogor 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.