News Update :
::

Pilihan

Khas Bogor

Partai Keadilan Sejahtera

Panggilan Jihad.mp4 BUYA HAMKA

Friday, May 22, 2015


[Kultwit] "Keutamaan & Tuntunan Amal di Bulan Sya'ban"

Thursday, May 21, 2015

[Kultwit] "Keutamaan & Tuntunan Amal di Bulan Sya'ban" Oleh Ustadz @salimafillah


1. #Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Tentangnya RasuluLlah bersabda:

2. ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ #Sya‘ban; bulan yang sering dilalaikan insan; antara Rajab & Ramadhan.

3. وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ #Sya‘ban adalah

4. ..bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Semesta Alam; maka aku suka jika amalku diangkat, sedang aku dalam keadaan puasa. #Sya‘ban

5. (HR. Ahmad dan Nasa’i, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no 1898) #Sya‘ban

6. Karena itu, berdasar riwayat shahih disebutkan bahwa RasuluLlah SAW berpuasa pada sebagian besar hari di bulan #Sya‘ban. ‘Aisyah berkata:

7. فَما رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وما رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ 

8. “Tak kulihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya dalam sebulan penuh, selain di bulan Ramadan. Dan tidak aku lihat..”

9. ..bulan yang beliau paling banyak berpuasa di dalamnya selain bulan #Sya‘ban." (HR Al Bukhari & Muslim)

10. Dalam Shahih Al Bukhari (1970) ada tambahan dari ‘Aisyah: “Tidak ada bulan yang Nabi SAW lebih banyak berpuasa di dalamnya…

11. …selain bulan #Sya‘ban. Sesungguhnya beliau berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”

12. Maksud hadits: beliau berpuasa pada sebagian besar hari-hari bulan #Sya‘ban, sebagaimana banyak riwayat lain yang menyatakan demikian.

13. Dalam ungkapan bahasa Arab, seseorang bisa mengatakan ‘berpuasa sebulan penuh’ padahal yang dimaksud adalah..

14. ..’berpuasa pada sebagian besar hari di bulan itu.’ Demikian keterangan Ibnu Hajar Al ‘Asqalany dalam Fathul Bari, 4/213. #Sya‘ban

15. Maka berpuasa di bulan #Sya‘ban adalah utama, karena: 1}’Amal-’amal manusia (secara tahunan) sedang diangkat ke hadapan Allah SWT.

16. 2} #Sya‘ban ialah bulan yang disepelekan; beramal & menghidupkan syi’ar di saat manusia lain lalai memiliki keutamaan tersendiri.

17. Selain kedua hal itu, puasa di bulan #Sya‘ban juga dimaknai sebagai: 3} Penyambutan & pengagungan terhadap datangnya bulan Ramadan.

18. Karena ibadah-ibadah yang mulia, umumnya didahului oleh pembuka yang mengawalinya; Haji diawali persiapan Ihram di Miqat, …

19. …Shalat juga diawali dengan bersuci, berwudhu’, dan persiapan-persiapan lainnya yang dimasukkan dalam syarat-syarat shalat. #Sya‘ban

20. Hikmah lain: puasa di bulan #Sya‘ban akan membuat tubuh mulai terbiasa untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan optimal.

21. Sebab sering di awal Ramadhan banyak daya & waktu habis untuk penyesuaian diri; padahal tiap detik bulan mulia sangat berharga. #Sya‘ban

22. Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mencantumkan pendapat: puasa #Sya‘ban seumpama sunnah Rawatib (pengiring) bagi puasa Ramadhan.

23. Untuk shalat; ada rawatib qabliyah & ba’diyah. Untuk Ramadhan, qabliyahnya; puasa #Sya‘ban & ba’diyahnya; puasa 6 hari di bulan Syawal.

24. Keutamaan #Sya‘ban bisa kita lihat di: Tahdzib Sunan Abu Dawud, 1/494, Latha’iful Ma’arif, 1/244.Nah, bagaimana tentang Nishfu Sya’ban?

25. Hadits-hadits terkait Nishfu #Sya‘ban ini sebagian dikategorikan dha’if (lemah), bahkan sebagian lagi dikategorikan maudhu’ (palsu).

26. Utamanya hadits yang mengkhususkan ibadah tertentu atau yang menjanjikan jumlah & bilangan pahala atau balasan tertentu. #Sya‘ban

27. Tetapi, ada sebuah hadits yang berisi keutamaan malam Nisfhu #Sya‘ban yang bersifat umum, tanpa mengkhususkan ibadah-ibadah tertentu.

28. إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

29. “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam Nisfhu #Sya‘ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik..

30. …atau yang bertengkar dengan saudaranya.” HR Ibnu Majah (1390). Dalam Zawa’id-nya, riwayat ini dianggap dha’if karena… #Sya‘ban

31. ..adanya perawi yang dianggap lemah. TETAPI, Ath Thabrani juga meriwayatkannya dari Mu’adz ibn Jabal dalam Mu’jamul Kabir (215) #Sya‘ban

32. Ibnu Hibban juga mencantumkan hadits ini dalam Shahihnya (5665), begitu pula Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnadnya (6642). #Sya‘ban

33. Al-Arna’uth dalam ta’liqnya pada dua kitab terakhir berkata, “SHAHIH dengan syawahid (riwayat-riwayat semakna yang mendukung).” #Sya‘ban

34. Al-Albani juga menilai hadits Nishfu #Sya‘ban ini SHAHIH {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1144), Shahih Targhib wa Tarhib (1026)}

35. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya terdapat KEUTAMAAN.” (Mukhtashar Fatawa Mishriyah, 291)

36. Karena itu, ada sebagian ulama salaf dari kalangan TABI'IN di negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan & Luqman bin Amir…

37. …yang menghidupkan malam tersebut dengan berkumpul di masjid-masjid untuk melakukan ibadah tertentu pada malam Nishfu #Sya‘ban.

38. Dari merekalah kaum muslimin mengambil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini BUKAN BID'AH!” #Sya‘ban

39. ‘Ulama Syam lain, di antaranya Al-Auza’i, TIDAK MENYUKAI perbuatan berkumpul di masjid untuk shalat & berdoa bersama di Nishfu #Sya‘ban.

40. Tetapi beliau -dan ‘ulama yang lain- MENYETUJUI keutamaan shalat, baca Al Quran dll pada Nishfu #Sya‘ban jika dilakukan sendiri-sendiri.

41. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al-Hanbali (Latha’iful Ma’arif, 151) & Ibn Taimiyah (Mukhtashar Fatawa Al Mishriyah, 292)

42. Adapun ‘ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, & para pengikut Imam Malik menganggap hal terkait Nishfu #Sya‘ban sebagai bid’ah.

43. Tapi kata mereka; qiyamullail sebagaimana tersunnah pada malam lain & puasa di siangnya sebab termasuk Ayyamul Bidh ialah baik. #Sya‘ban

44. Demikian agar perbedaan pendapat ini difahami & tak menghalangi kita untuk melaksanakan segala ‘amal ibadah utama pada bulan #Sya‘ban.

45. Bulan #Sya‘ban adalah juga kesempatan tuk meng-qadha’ hutang puasa Ramadhan kemarin sebelum datangnya Ramadhan berikut. ‘Aisyah berkata:

46. كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فما أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شعبَان، الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ

47. Aku punya hutang puasa Ramadan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan #Sya‘ban, karena sibuk melayani Nabi. (HR Al Bukhari-Muslim)

48. #Sya‘ban: Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 8/21) & Ibn Hajar (Fathul Bari, 4/189) menjelaskan; dari hadits ‘Aisyah ini disimpulkan:

49. Jika ada ‘udzur, maka qadha’ puasa bisa diakhirkan sampai bulan #Sya‘ban. Tanpa ‘udzur, menyegerakannya di bulan Syawal dst lebih utama.

50. #Sya‘ban: Bagaimana jika lalai; tanpa ‘udzur, hutang puasa belum terbayar, tapi Ramadhan baru telah datang? Jumhur ‘ulama berpendapat:

51. Dia harus beristighfar atas kelalaiannya pada kewajiban itu & harus bertekad untuk segera meng-qadha’-nya setelah Ramadhan ini.

52. Menurut mereka, tiada kewajiban khusus selain hal itu. Tetapi sebagian ‘ulama berpendapat agar si lalai menambahkan 1 hal lagi.

53. Yakni mengeluarkan 1/2 Sha’ makanan pokok (+/- 1,5 kg) untuk tiap hari yang terlalai belum dibayar hutang puasanya tahun lalu.

54. Ini sebagai pengingat atas kelalaiannya & dia harus tetap mengganti puasa yang terlalai diganti tahun ini pada tahun depannya.

55. Ini berdasar ijtihad beberapa sahabat Nabi SAW. Tak ada nash khususnya, tetapi ijtihad ini dianggap baik. (Fathul Bari, 4/189)

56. Jika masuk bulan #Sya‘ban, hendaknya kita saling mengingatkan (juga terutama pada kaum wanita) yang punya hutang puasa agar ditunaikan.

57. Sehari atau 2 hari terakhir #Sya‘ban dinamakan Yaumusy-Syakk (hari keraguan), sebab ketidakjelasan apa sudah masuk Ramadhan atau belum.

58. Nabi bersabda: لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ، إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ

59. “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang… #Sya‘ban

60. …yang (memang seharusnya/biasanya) melakukan puasanya pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” {HR Al Bukhari & Muslim}

61. Maknanya; terlarang tuk sengaja mengkhususkan berpuasa pada Yaumusy Syakk. Tetapi boleh bagi yang HARUS (nadzar, qadha’, dll)..

62. ..dan boleh juga yang BIASA (karena puasa Dawud, bertepatan Senin/Kamis, dll). Hikmah pelarangan itu sekedar sebagai pemisah..

63. …antara puasa Ramadhan yang fardhu dengan puasa sebelum/sesudahnya yang sunnah. (Syarh Muslim 7/194, Latha’iful Ma’arif 151)

64. Demikian Shalih(in+at) bincang kita tentang #Sya‘ban. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ وَوَفِّقْنَا فِيهِ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

65. "Ya Allah; berkahi kami di bulan Sya'ban, karuniakan taufiq pada kami di dalamnya, & sampaikan kami ke bulan Ramadhan."

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ Ingin Bebas Hutang? Bacalah Doa Ini

Wednesday, May 20, 2015

Ingin Bebas Hutang? Bacalah Doa Ini


Apakah Anda sedang terbelit hutang? Berapapun hutang Anda, agaknya tidak lebih berat daripada seseorang yang datang kepada Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu ini. Sebab orang yang datang ini adalah budak mukatab. 

Ali bin Abu Thalib kemudian mengajarkannya sebuah doa dari Rasulullah yang bukan hanya bisa membebaskannya, tetapi juga  bisa membayar hutang walau sebesar gunung.

Doa itu adalah :

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal hingga aku terhindar dari yang Engkau haramkan, Ya Allah kayakanlah aku dengan karunia-Mu hingga aku tidak minta kepada selain Engkau

Secara lengkap, hadits tersebut diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad sebagai berikut:

أَنَّ مُكَاتَبًا جَاءَهُ فَقَالَ إِنِّي قَدْ عَجَزْتُ عَنْ كِتَابَتِي فَأَعِنِّي قَالَ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَيْنًا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْكَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Seorang budak mukatab (yang mengadakan perjanjian pembebasan dengan tuannya) datang kepada Ali dan berkata; aku tidak mampu membayar pembebasanku, maka tolonglah aku! Ali berkata; maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang telah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ajarkan kepadaku, yang seandainya engkau memiliki hutang sebesar gunung Shir niscaya Allah akan membayarkannya untukmu? Ali berkata; ucapkanlah; ALLAAHUMMAKFINII BIHALAALIKA 'AN HARAAMIK, WA AGHNINII BIFADHLIKA 'AMMAN SIWAAK (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kehalalanMu sehingga tidak memerlukan keharamanMu, dan jadikanlah aku kaya sehingga tidak butuh kepada selainMu). (HR. Tirmidzi)

أَتَى عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنِّي عَجَزْتُ عَنْ مُكَاتَبَتِي فَأَعِنِّي فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَنَانِيرَ لَأَدَّاهُ اللَّهُ عَنْكَ قُلْتُ بَلَى قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Seorang lelaki menemui Ali Radhiyallahu 'anhu kemudian berkata; "Wahai Amirul Mukminin, saya tidak mampu untuk membayar uang pembebasan diriku, bantulah aku." Ali Radhiallah 'anhu menjawab; "Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ajarkan kepadaku, seandainya kamu mempunyai hutang uang dinar sebesar gunung Shir pasti Allah akan melunasinya untukmu." Aku menjawab; "Ya." Ali berkata; "Bacalah: ALLAHUMMA AKFINI BIHALALIKA 'AN HARAMIKA WA`AGHNINI BIFADLIKA 'AMMAN SIWAKA (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dariMu dan cukupkanlah aku dengan fadlilahMu dari selainMu)." (HR. Ahmad)

"MORSI IS NOT ALONE"

"MORSI IS NOT ALONE"
by @Fahrihamzah #MorsiIsNotAlone

1. Seorang produsen dan pengedar Narkotika di #HukumMati dunia berbicara menegur kita.
2. Seorang Presiden yang terpilih secara demokratis di #HukumMati dunia diam saja.#MorsiIsNotAlone
3. Seorang Presiden yang terpilih setelah ribuan tahun tak ada pemilihan langsung. #MorsiIsNotAlone
4. Seorang Presiden yang terpilih dalam satu transisi demokrasi yang diharapkan bersama. #MorsiIsNotAlone
5. Arab Spring dan jutaan rakyat yang bergerak ke lapangan Tahrir adalah tumbal. #MorsiIsNotAlone
6. Dan dari jauh kita menyaksikan getir orang-orang yang dibunuh secara bergiliran. #MorsiIsNotAlone
7. Kini giliran #Morsi Presiden mereka yang mereka pilih dengan kemenangan mutlak. #MorsiIsNotAlone
8. Ia dituduh kembali setelah dihukum 20 tahun beberapa saat yang lalu. #MorsiIsNotAlone
9. Jadi, ia telah divonis 20 tahun atas tuduhan melakukan kekerasan tahun 2012. #MorsiIsNotAlone
10. Lalu sekarang akan didelik #HukumMati atas tuduhan lain. #MorsiIsNotAlone
11. Ia dituduh membuat kekacauan di penjara dan membocorkan rahasia negara. #MorsiIsNotAlone
12. Angka yang tragis bukan?:
2011 #ArabSpring
2012 #Morsi Terpilih
2013 Kudeta Militer.
#MorsiIsNotAlone
13. Rezim kudeta berdarah inilah sekarang yang menjadi harapan baru di barat. #MorsiIsNotAlone
14. Itulah yang membuat mereka diam oleh kekejaman Junta militer yang luar biasa. #MorsiIsNotAlone
15. Kita terbangun oleh dunia yang tidak dikelola dengan adil. #MorsiIsNotAlone
16. Kita terbangun oleh luluh lantaknya demokrasi yang sedang dirintis. #MorsiIsNotAlone
17. Sikap dunia yang diam setelah 2 tahun lebih demokrasi Mesir dihancurkan pantas mendapat makian. #MorsiIsNotAlone
18. Sikap diam terhadap pembunuhan berseri yang memakan korban ribuan pemimpin politik ini memuakkan. #MorsiIsNotAlone
19. Yang mati di Mesir bukanlah Kriminil dan pengedar barang haram atau koruptor. #MorsiIsNotAlone
20. Yang mereka bunuh di Mesir adalah sebagian besar dari peradaban mereka. #MorsiIsNotAlone
21. Orang2 terpelajar dari kalangan politisi, wartawan, ilmuwan, seniman, olahragawan...dll.. #MorsiisNotAlone
22. Kesalahan mereka hanya satu: menentang kudeta militer yang menghancurkan masa depan. #MorsiIsNotAlone
23. Kesalahan #Morsi adalah karena ia lugu. Ia dipilih karena masa lalunya yang bersih. #MorsiIsNotAlone
24. Dan #Morsi tidak mengerti bahwa kekuatan lama masih merajalela dan mencari jalan kembali. #MorsiIsNotAlone
25. Dunia barat ikut mendukung kembalinya kekuatan lama karena Israel tidak ingin ada demokrasi tandingan. #MorsiIsNotAlone
26. Demokrasi yang kita perjuangkan memiliki musuh. Mereka yang tidak siap dengan kebebasan. #MorsiIsNotAlone
27. Kemenangan #Morsi dan partai Freedom AND Justice #FJP adalah kemenangan kebebasan. #MorsiIsNotAlone
28. Setelah lama hidup dibawa kendali para Firaun. rakyat Mesir memilih pemimpinnya sendiri. #MorsiIsNotAlone
29. Dan kini Firaun kecil naik lagi. Ia nampak kuat karena didukung kekuatan barat. #MorsiIsNotAlone
30. Barat diam dengan kezaliman dan tangan berdarah di tangan sang Junta. #MorsiIsNotAlone
31. PBB diam dengan reaksi seadanya. Tak seperti pembelaan pada para pengedar narkoba. #MorsiIsNotAlone
32. Dan apakah kita nampak tidak berdaya? #MorsiIsNotAlone
33. Jika iya, maka marilah kita menengadahkan tangan ke atas langit. Meminta keterlibatanNya. #MorsiIsNotAlone
34. Seperti dulu ketika diatur ditenggelamkan bukan oleh Nabi Musa . #MorsiIsNotAlone
35. Firaun tenggelam karena Tuhan perintahkan laut merah terbelah. #MorsiIsNotAlone
36. Semoga Allah SWT tenggelamkan segala angkara murka. Dan selamatkan nyawa tersisa. #MorsiIsNotAlone
37. Bersabarlah #Morsi karena engkau tidak sendiri. Kami mendoakanmu. #MorsiIsNotAlone
38. Ya Allah selamatkan #Morsi.
#FreeMorsi
#MorsiIsNotAlone

Cicak di Dinding dan Keyakinan Utuh

Saturday, May 16, 2015

Cicak di Dinding dan Keyakinan Utuh


oleh Salim A. Fillah


dalam Inspirasi, Rajutan Makna. 20/06/2014
LLK 2a

Barangsiapa memperbagus hal-hal tersembunyinya, niscaya Allah jelitakan apa yang tampak dari dirinya.

Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah baikkan hubungannya dengan sesama.


Barangsiapa disibukkan oleh urusan agamanya, maka Allah yang kan mencukupinya dalam perkara dunia.

-‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz-

Seandainya kita adalah seekor cicak, mungkin sudah sejak dulu kita berteriak, “Ya Allah, Kau salah rancang dan keliru cetak!”

Sebab cicak adalah binatang dengan kemampuan terbatas. Dia hanya bisa merayap meniti dinding. Langkahnya cermat. Jalannya hati-hati. Sedang semua yang ditakdirkan sebagai makanannya, memiliki sayap dan mampu terbang ke mana-mana. Andai dia berfikir sebagai manusia, betapa nelangsanya. “Ya Allah”, mungkin begitu dia mengadu, “Bagaimana hamba dapat hidup jika begini caranya? Lamban saya bergerak dengan tetap harus memijak, sedang nyamuk yang lezat itu melayang di atas, cepat melintas, dan ke manapun bebas.” Betapa sedih dan sesak menjadi seekor cicak.

Tapi mari ingat sejenak bahwa ketika kecil dulu, orang tua dan guru-guru mengajak kita mendendang lagu tentang hakikat rizqi. Lagu itu berjudul, ‘Cicak-cicak di Dinding’.

Bahwa tugas cicak memang hanya berikhtiar sejauh kemampuan. Karena soal rizqi, Allah lah yang memberi jaminan. Maka kewajiban cicak hanya diam-diam merayap. Bukan cicak yang harus datang menerjang. Bukan cicak yang harus mencari dengan garang. Bukan cicak yang harus mengejar dengan terbang.

“Datang seekor nyamuk.”

Allah Yang Maha Mencipta, tiada cacat dalam penciptaanNya. Allah Yang Maha Kaya, atasNya tanggungan hidup untuk semua yang telah dijadikanNya. Allah Yang Maha Memberi Rizqi, sungguh lenyapnya seisi langit dan bumi tak mengurangi kekayaanNya sama sekali. Allah Yang Maha Adil, takkan mungkin Dia bebani hambaNya melampaui kesanggupannya. Allah Yang Maha Pemurah, maka Dia jadikan jalan karunia bagi makhluqNya amatlah mudah.

“Datang seekor nyamuk.”

Allah yang mendatangkan rizqi itu. Betapa dibanding ikhtiyar cicak yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi sang cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku, dan lebih dahsyat. Jarak dan waktu memisahkan keduanya, dan Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Bebas si nyamuk terbang ke mana jua, tapi Allah bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah bersahaja. Ia tertakdir dengan bahagia, menjadi rizqi bagi sesama makhluqNya, sesudah juga menikmati rizqi selama waktu yang ditentukanNya.

“Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah lah rizqinya. Dia Maha Mengetahui di mana tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata.” (QS Huud [11]: 6)

“Daabbah”, demikian menurut sebagian Mufassir, “Adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang hina bersebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya, liar hidupnya, dan bahkan bahaya dapat ditimbulkannya.” Allah menyebut daabbah di ayat ini, seakan-akan untuk menegaskan; jika binatang-binatang rendahan, terbelakang, kotor, liar, dan berbahaya saja Dia jamin rizqinya, apatah lagi manusia.

***

“Sesungguhnya rizqi memburu hamba”, demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana dicatat oleh Imam Ath Thabrani, “Lebih banyak dari kejaran ajal terhadapnya.”

Ini kisah sebutir garam. Titah Ar Rahman kepadanya adalah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah seorang hamba hina bernama Salim, yang tinggal di Yogyakarta. Betapa jauh baginya, sebab ia masih terjebak di dalam ombak, di Laut Jawa yang bergolak.

Setelah terombang-ambing bersama penantian yang panjang, angin musim bergerak ke timur, menggesernya pelan-pelan menuju pesisir Madura. Dan petani-petani garam di Bangkalan, membelokkan arus air ke tambak-tambak mereka. Betapa bersyukur sebutir garam itu saat ia mengalir bersama air memasuki lahan penguapan. Penunaian tugasnya kian dekat.

Tiap kali terik mentari menyinari, giat para petambak itu menggaru ke sana kemari, agar bebutir yang jutaan jumlahnya kian kering dan mengkristal. Sebutir garam yang kita tokohkan dalam cerita ini, harap-harap cemas semoga ia beruntung dimasukkan ke dalam karung goni. Sebab sungguh, ada bebutir yang memang tugasnya berakhir di sini. Tertepikan bersama becekan lumpur di sudut-sudut ladang garam.

Dan dia terpilih, terbawa oleh para pengangkut ke pabrik pemurnian di Pamekasan. Sebakda melalui serangkaian pembasuhan dan pengisian zat-zat yang konon mendukung kesehatan, dia dikemas rapi, digudangkan untuk menunggu pengepakan dan pengiriman. Betapa masih panjang jalannya, betapa masih lama berjumpa dengan sosok yang ia dijatahkan sebagai rizqi baginya.

Ringkasnya, setelah berbulan, ia malang melintang menuju Jakarta, lalu Semarang, sebelum akhirnya tiba di Yogyakarta. Dari pasar induknya, terlempar ia ke pasar kota, baru diambil pedagang pasar kecamatan akhirnya. Lalu terkulaklah ia oleh pemilik warung kecil, yang rumahnya sebelah-menyebelah dengan makhluq yang ditujunya. Kian dekat, makin rapat.

Ketika seorang wanita, istri dari lelaki yang akan ia tuju dalam amanah yang diembannya, membeli dan menentengnya pulang, betapa haru rasanya. Masuklah ia ke dalam masakan lezatnya, berenang dan melarutkan dirinya. Lalu terdengar suara, “Sayang, silakan sarapan. Masakannya sudah siap.” Dan lelaki itu, bergerak pelan dari kamarnya, menjemputnya dengan sebuah suapan yang didahului doa.

Segala puji bagi Allah, yang memberi titah untuk mengasinkan lidah dan mengisi darah. Segala puji bagi Allah, yang mengatur perjumpaannya dengan makhluq ini sesudah perjalanan yang tak henti-henti. Segala puji bagi Allah, yang menyambutkan doa bagi tunainya tugas yang diembannya.

***

Betapa jarang kita mentafakkuri rizqi. Seakan semua yang kita terima setiap hari adalah hak diri yang tak boleh dikurangi. Seakan semua yang kita nikmati setiap hari adalah jatah rutin yang murni dan tak boleh berhenti. Seakan semua yang kita asup setiap hari adalah memang begitulah adanya lagi tak boleh diganggu gugat.

Padahal, hatta sebutir garampun adalah rizqi Allah yang menuntut disyukuri.

Hatta sebutir garam, menempuh perjalanan yang tak mudah lagi berbulan, untuk menemui pengasupnya yang hanya berpindah dari kamar tidur ke ruang makan. Betapa kecil upaya kita, dibandingkan cara Allah mengirimkan rizqiNya. Kita baru merenungkan sebutir garam, bagaimanakah bebijian, sayur, ikan, dan buahnya? Bagaimanakah katun, wol, dan sutranya? Bagaimanakah batu, kayu, pasir, dan gentingnya? Bagaimanakah besi, kaca, dan karet rodanya?

Maka seorang ‘Alim di Damaskus suatu hari berkata tentang sarapannya yang amat bersahaja, “Gandum dari Najd, garam dari Marw, minyak dari Gaza, dan air Sungai Yordan. Betapa hamba adalah makhluqMu yang paling kaya wahai Rabbana!”

Dia mengingatkan kita pada sabda Rasulullah. “Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya bebarang harta”, demikian yang direkam Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, “Kekayaan sesungguhnya adalah kayanya jiwa.”

Akhirnya, mari kita dengarkan sang Hujjatul Islam. “Boleh jadi kau tak tahu di mana rizqimu”, demikian Imam Al Ghazali berpesan, “Tetapi rizqimu tahu di manakah engkau. Jika ia ada di langit, Allah akan memerintahkannya turun untuk mencurahimu. Jika ia ada di bumi, Allah akan menyuruhnya muncul untuk menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, Allah akan menitahkannya timbul untuk menemuimu.”

Di lapis-lapis keberkahan, ada keyakinan utuh yang harus ditanamkan, bahwa Allah Yang Mencipta, menjamin rizqi bagi ciptaanNya.

***

Ada dua cara Allah mengaruniakan rizqi dalam dua keadaan yang dialami oleh Maryam binti ‘Imran, salah satu wanita termulia sepanjang zaman.

Kita mengenang, betapa agung nadzar istri ‘Imran untuk menjadikan buah hati yang dikandungnya sebagai pengkhidmah di Baitul Maqdis. Yang dia bayangkan adalah seorang anak lelaki yang akan menjadi imam ibadah di Al Quds, pengurai Taurat yang fasih, dan pembimbing ummat yang penuh teladan. Tetapi Allah yang Maha Berkehendak mengaruniakan anak perempuan.

“Maka Rabbnya menerima nadzar keluarga ‘Imran dengan penerimaan yang baik. Allah tumbuhkan dan didik Maryam dengan pengasuhan yang bagus, dan Allah jadikan Zakaria sebagai penanggungjawab pemeliharaannya. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di dalam mihrab, dia dapati ada rizqi di sisinya. Berkatalah dia, “Hai Maryam, dari manakah kaudapatkan ini?” Maryam menjawab, “Ia dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah mengaruniakan rizqi pada siapapun yang dikehendakiNya tanpa hisab.” (QS Ali ‘Imran [3]: 37)

Betapa jua, Allah Yang Maha Tahu tetap menerima nadzar itu. Maka sang Bunda membawa bayi Maryam ke Baitul Maqdis di mana para pemuka Bani Israil, Ahbar, dan para Rahib berkumpul, berharap untuk mendapatkan hak asuh atas Maryam yang yatim. Ketika mereka melemparkan pena-pena dalam undian, Allah mengamanahkan Maryam pada Zakaria.

Maryam tumbuh di lingkungan yang baik, dengan ta’dib yang baik, dibimbing insan terbaik. Jadilah dia seorang ahli ‘ibadah di Mihrab Baitul Maqdis, menjaga kesuciannya, mengkhidmahkan diri untuk rumah Allah. Dengan keyakinan utuh akan kuasa dan kemurahan Rabbnya, bahkan seorang Nabi tertakjub-takjub melihat limpahan anugerah Allah bagi gadis suci ini.

Tapi setiap insan diuji Allah dengan karunia terkait apa yang paling dijunjung tinggi oleh jiwanya. Pun juga Maryam yang begitu taat beribadah, yang lahir batin menjaga kebersihan dirinya, yang kudus dalam hati, fikiran, serta perbuatannya. Allah memilihnya untuk mengandung bayi ajaib, yang tercipta tanpa Ayah, yang menghuni rahimnya tanpa dia terlebih dulu disentuh seorang pria.

Karunia mengandung ujian, dan ujian mengandung karunia. Demikianlah hakikatnya.

Inilah dia di hari itu, berada di tempat yang jauh ke timur, sekira 8 mil dari Mihrabnya di Baitul Maqdis. “Dapatlah kita merasakan”, demikian ditulis Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, “Bahwa hidup Maryam ketika itu memang tersisih jauh dari kaum keluarga. Kegelisahan diri karena terpaan sakit dan kejang yang bertubi datang sebagaimana lazimnya wanita yang akan melahirkan menyebabkan dia mencari tempat yang sunyi dan teduh.”

“Maka rasa sakit menjelang persalinan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, “Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tak berarti, lagi dilupakan.” (QS Maryam [20]: 23)

Di bawah naungan pohon itu, perasaannya mengawang, fikirannya melayang. Bahwa anak itu akan lahir, tapi tiada ayah baginya. “Adapun Maryam sendiri percaya bahwa ini adalah kehendak Allah”, lanjut Buya Hamka, “Tetapi apakah kaumnya akan percaya? Siapa pula yang akan percaya? Sepanjang zaman, belum pernah ada perawan yang hamil serta beranak tanpa ada lelaki yang menjadi bapak.”

Maka terlontarlah kalimat yang menyiratkan sesalan atas ketetapan Allah itu, bersebab rasa berat yang menekan-nekan hati dan menyesakkan dadanya. “Aduhai celaka, alangkah baik seandainya aku mati sebelum ini”, seru Maryam. Yakni sebelum dirinya hamil dengan cara ganjil yang sukar dijelaskan pada kaum Bani Israil yang sebagiannya suka usil.

“Dan aku menjadi barang yang tak berarti lagi dilupakan”, lanjut keluhan Maryam. Sungguh Maryam berharap tidak ada insan yang tahu, tidak ada siapapun yang mengenal, dan tidak sampai menjadi buah mulut orang-orang. “Memang”, jelas Buya Hamka, “Jikalau pencobaan telah memuncak sedemikian rupa, datang saat manusia merasa lebih baik mati saja.”

Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu. Niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS Maryam [20]: 24-25)

Yang pernah bertamu pada Allah dan menjenguk Rasulullah, pastinya telah melihat pohon kurma. Kokoh, gagah, tinggi, dan berruas-ruas sisa tandan di bagian bawahnya. Di Madinah Al Munawwarah, kami pernah mencoba menggoyangkannya, dan batang itu tak bergeming sedikitpun juga. Maka bayangkanlah perempuan yang lemah berdarah-darah setelah melahirkan, serta berada dalam perasaan tak karuan, yang terharuskan mengguncangnya agar buah ranumnya jatuh ke bumi.

Inilah ikhtiyar. Bagi Maryam, ia berat dan sukar.

Tapi iman memanglah yang utama, mentaati Allah harus jadi yang mula-mula. Maka dengan kemurahan dan kasihNya, saat Maryam menghabiskan seluruh sisa tenaganya untuk menggerakkan pangkal pokok yang besar itu, satu demi satu, ruthab pun lepas dari tangkainya.

Sebagian ‘ulama menyatakan, tak sebagaimana ketika dia berada di Mihrab dengan iman yang berseri-seri dan ibadah yang terjaga sekali, ucapan Maryam yang menyesali diri menunjukkan ketaksempurnaan penerimaannya akan ketetapan Allah. Hal itulah yang membuatnya tak mendapat rizqi yang langsung tersaji dari langit, namun harus mengupayakannya dengan meengguncang pokok kurma agar kurma basah di atas sana jatuh ke arahnya.


Allah menjamin rizqi Maryam dalam dua keadaan dengan dua cara penganugrahan. Lalu kita tahu, di lapis-lapis keberkahan, keyakinan yang tak lagi utuh, menambahkan peluh pada jalan ikhtiyar yang harus kita tempuh.

PANDUAN ZAKAT PRAKTIS

Wednesday, May 13, 2015

PANDUAN ZAKAT PRAKTIS


PENDAHULUAN

Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki kepedulian terhadap kaum dhuafa denganmenolong, membantu dan meringankan beban hidup mereka. Perbuatan tersebut termasuk salah satu kewajiban yang mesti dilakukan, firman Allah SWT: ”dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah: 3).

Untuk memudahkan jalan bagi kaum muslimin dalam membantu kaum dhuafa, Islam menetapkan adanya syariat zakat, infak dan shadaqah. Dalam sejarah Islam, konsep zakat membuktikan bukan hanya dapat meringankan beban kaum dhuafa tetapi juga mampu menjadi salah satu tonggak dalam mengentaskan kefakiran dan kemiskinan. Dan itulah visi zakat, “merubah mustahik (penerima
zakat) menjadi muzakki (pembayar zakat)”.

Atas dasar pemikiran itulah memandang perlu untuk mensosialisasikannya kepada umat Islam, untuk itu maka disusunlah risalah zakat yang berjudul “Panduan Zakat Praktis”. Buku ini mencakup tentang zakat dan berbagai macam permasalahannya, dilengkapi dengan beberapa kasus yang terjadi di masyarakat dengan menyajikan beberapa pertanyaan sekaligus memberikan solusi atau jawabannya.

Buku (tulisan) ini juga merupakan hasil konsultasi dengan Pakar Zakat yaitu DR. Surahman Hidayat, MA, karena itu kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kontribusi yang beliau berikan dalam penyusunan buku ini. Semoga Allah melipat gandakan semua amal kebaikannya.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan buku ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kami menerima saran dan kritik positif sehingga buku ini dapat menjadi lebih berkualitas dan menuju kesempurnaan. Dan kami berharap buku “Panduan Zakat Praktis” ini dapat bermanfaat dan benar-benar menjadi panduan bagi umat Islam.









DEFINISI
Dalam Islam dikenal 3 istilah yang memiliki makna yang hampir serupa tetapi memiliki perbedaan, bahkan sebagiannya merupakan bagian dari kata lainya. Jika dibuatkan diagram maka bentuknya adalah sebagai berikut :



Dari gambar tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa shadaqah memiliki makna yang lebih luas dari pada infaq ataupun zakat. Dalam Al Quran kata shadaqah terkadang bermakna zakat,
seperti dalam surat At Taubah ayat 60:
”Sesungguhnya shadaqah (zakat) itu hanyalah untul faqir, miskin,amil, mualaf, riqab, gharimin, fi sabilillah dan ibnu sabil”.
Begitu pula dalam ayat 103 :
 “Ambillah zakat dari sebagian harta orang kaya sebagai shadaqah (zakat), yang dapat membersihkan harta mereka dan mensucikan jiwa mereka doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu dapat memberi ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

Begitu pula dengan infaq terkadang bermakna zakat seperti yang terdapat dalam al quran surat Al Baqarah ayat 267:
 “Hai orang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi utk kamu…”

Secara bahasa Shadaqah berasal dari kata  صِدْقًا يَصْ قُدُ قَدَص yang artinya benar, dan dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda maknanya shadaqah itu “dalil” kebenaran iman seseorang.

.
Zakat, infaq dan shadaqah memiliki kemiripan makna, Shadaqah adalah sesuatu yang diberikan oleh seorang dapat berbentuk materi misalnya uang atau barang, atau pun non materi misalnya senyum, seperti yang dtegaskan oleh Rasulullah saw. Infaq adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang baik yang sunnah maupun yang wajib. Yang sunnah adalah yang tidak ditentukan nilainya, sasarannya dan waktu. Seseorang dapat berinfaq kapan saja, dimana saja dan besarannyapun berapa saja, begitu juga sasarannya tidak ditentukan secara speseifik tetapi lebih fleksibel. Misalnya kotak amal yang terdapat di masjid-masjid dan lainlain.

Sementara yang wajib adalah yang ditentukan nilainya (2,5%, 5%, 10% atau 20%, dan lainlain) diantara infaq yang wajib adalah zakat.
Zakat secara bahasa berasal dari kata ىآز ىآزي ةاآز yang artinya tumbuh dan berkembang, sedangkan secara istilah adalah mengeluarkan sebagian harta dalam waktu tertentu (haul atau ketika panen), nilai tertentu (2,5%, 5%, 10% atau 20%,) dan sasaran tertentu (faqir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fi sabilillah dan ibnu sabil).

Zakat juga berfungsi untuk :

1. Membersihkan jiwa dari sifat bakhil, selfish dan menyembah harta
2. Membersihkan harta dari terkontaminasi hak orang lain
3. Zakat berfungsi memperkembangkan harta

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda yang artinya ”Tidak akan berkurang harta yang dikeluarkan untuk bershadaqah”.

LANDASAN SYAR’I

Al-Quran

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” QS. Adz Dzariat : 19
“…Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya …” QS. Al Hadid : 7
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” Q.S. Al Baqarah : 267

Al-Hadits

“Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan.” H.R. Thabrani
“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu.” H.R. Al Bazar dan Baehaqi.
Ijma’

Kesepakatan ulama baik salaf maupun khalaf bahwa zakat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam dan haram mengingkarinya.

Ancaman bagi orang yang tidak berzakat
Firman Allah SWT. :
“Dan orang-orang yang tidak menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah swt. maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Pada hari itu dipanaskan emas dan perak tersebut di neraka jahanam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka :”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) harta yang kamu simpan.” (QS. At Taubah : 34-35).

POTENSI ZAKAT

Pada masa dulu zakat yang dikumpulkan di Baitulmaal (Lembaga Amil Zakat pada saat itu) sangat berpotensi untuk mengentaskan kemiskinan, pada masa Umar bin Khattab, Muaz bin Jabal yang menjabat sebagai Gubernur di Yaman, ditunjuk untuk menjadi Ketua Amil Zakat disana. Pada tahun pertama Muaz bin Jabal mengirimkan 1/3 dari surplus dana zakat ke pemerintahan pusat, lalu dikembalikan ke Yaman oleh beliau. Pada tahun ke 2, Muaz mengirimkan ½ dari surplus dana zakat yang terkumpul di baitulmaal. Dan pada tahun ketiga semua dana zakat dikirimkan ke pemerintahan pusat, karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima dana zakat dan merasa sebagai mustahik, akhirnya dana tersebut dialihkan pemanfaatannya ke daerah lain yang masih minim.

Hal tersebut terjadi juga pada masa Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ubaid, bahwa Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurrahman mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang melimpahnya dana zakat di baitulmaal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat.
Lalu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memberikan upah kepada mereka yang biasa menerima upah, dijawab oleh Yazid, “kami sudah memberikannya tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal, lalu Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan untuk memberikan dana zakat tersebut kepada mereka yang berhutang dan tidak boros.
Yazid pun berkata, “kami sudah bayarkan hutang-hutang mereka, tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ia mencari orang lajang yang ingin menikah agar dinikahkan dan dibayarkan maharnya, dijawab lagi “kami sudah nikahkan mereka dan bayarkan maharnya tetapi dana zakat begitu banyak di Baitul Maal”.
Akhirnya Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar Yazid bin Abdurrahman mencari seorang yang mempunyai usaha dan kekurangan modal, lalu memberikan mereka modal tambahan tanpa harus mengembalikannya.

SYARAT HARTA WAJIB ZAKAT

• Milik sempurna (Milkun Taam)
• Cukup nishab
• Berlalu satu tahun atau haul (bagi sebagian harta)
• Harta yang halal
• Lebih dari kebutuhan pokok (surplus minimum).
• Berkembang (An Nama)

JENIS ZAKAT

Zakat terbagi menjadi dua :
• Zakat Fitrah (Nafs)
• Zakat Harta (maal)

ZAKAT FITRAH

Pengertian
Zakat fitrah adalah zakat (shadaqah) jiwa, istilah tersebut diambil dari kata fitrah yang merupakan asal dari kejadian. Dari Ibnu Umar ra. Beliau berkata : ”Rasulullah saw. Telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ dari kurma atau gandum atas budak,orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori).

Besaran yang harus dikeluarkan adalah 2,176 kg.

Waktu pembayaran
1.   Wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan
2.   Boleh mendahulukan atau mempercepat pembayaran zakat fitrah dari waktu wajib tersebut.

  


ZAKAT MAAL

Pengertian

Zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seseorang atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Macam – Macam Zakat Maal

A. ZAKAT EMAS DAN PERAK
Syariat Islam memandang emas dan perak merupakan harta yang potensial disamping dapat berfungsi sebagai perhiasan yang indah, emas juga dapat berfungsi sebagai alat tukar dari masa ke masa. Oleh sebab itu syariat Islam memandang perlunya dikeluarkan zakat emas dan perak ini. Bahkan dalam Alquran disebut secara khusus dalam surat At-Taubah: 34-35, “…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah swt. maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari itu dipanaskan emas dan perak tersebut di neraka jahanam, lalu disetrika dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka :”Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) harta yang kamu simpan.”.

Ketentuan Zakat Emas dan Perak

Zakat Emas
1. Nishab zakat emas 85 gram emas
2. Haul  selama 1 tahun
3. Kadar yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5%
4. Perhiasan yang wajib dikeluarkan zakat adalah perhiasan yang disimpan dan
    tidak dipakai, selain itu maka tidak wajib dikeluarkan zakat.

Cara Menghitung Zakat Emas / Perak

Contoh :
Ibu Fatma memiliki perhiasan emas sebanyak 150 gram, yang biasa dipergunakan adalah sebanyak 40 gram, setelah berjalan 1 tahun, berapa zakat yang harus dikeluarkannya?
Jumlah perhiasan emas = 150 gram
Yang dipergunakan = 40 gram
Emas yang disimpan = 150 - 40 = 110 gram
Nishab zakat emas adalah 85 gr
Perhiasan emas yang dimiliki oleh ibu Fatmah sudah wajib dizakati karena melebihi nishab dan mencapai haul.
Cara menghitungnya adalah :
110 x 2,5% = 2,75 gram atau jika dnilai dengan uang adalah sebagai berikut :
Jika harga 1 gram emas adalah Rp 500.000,- maka 110 gram emas = Rp 55.000.000,-, maka zakatnya adalah 55.000.000 x 2,5 % = Rp 1.375.000,-
Jadi zakatnya adalah 2,75 gr atau Rp Rp 1.375.000,-,

 Zakat Perak

1. Nishab zakat perak adalah 595 gram
2. Haul selama 1 tahun


 Nishab ialah istilah Fikih tentang jumlah tertentu dalam harta kekayaan yang wajib dikenakan zakatnya, contohnya 20 mitsqal atau 85 gram emas, 5 wasaq atau 653 kg beras dan lain-lain.

 Haul isltilah Fikih tentang masa kepemilikan harta kekayaan yang wajib dikenakan zakatnya, persyaratan ini hanya diperuntukkan bagi ternak, uang dan harta benda dagang atau yang dapat dimasukan ke dalam istilah “zakat modal”,
Tetapi hasil pertanian, buah-buahan, madu, logam mulia, harta karun dan lain-lainnya yang sejenis tidak dipersyaratkan satu tahun dan semuanya dimasukan ke dalam istilah “zakat pendapatan”. (DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat ; 161).

3. Kadar yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5%
4. Cara penghitungan sama dengan penghitungan zakat emas.

B. ZAKAT PERTANIAN

Firman Allah swt. :
“Hai orang- orang yang beriman nafkahkanlah (zakat) dari sebagian hasil usahamu yang baik baik dan sebagian hasil bumi yang kami (Allah) keluarkan untuk kalian”. (QS.Al-Baqarah: 267).

Ketentuan zakat pertanian

1.   Nishab zakat pertanian adalah 653 kg beras.
Dari Jabir Rasulullah saw. Bersabda : “.Tidak wajib dibayar zakat pada kurma yang kurang dari 5 Ausuq.” (HR. Muslim) Ausuq jamak dari wasaq, 1 wasaq = 60 sha’, sedangkan 1 sha’ = 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah 5x 60 x 2,176 = 652,8 kg.

2.   Kadarnya sebanyak 5% jika menggunakan irigasi atau 10% dengan pengairan alami  (tadah hujan).
Hadits Nabi saw. :”yang diairi dengan air hujan ,mata air dn tanah zakatnya sepersepuluh (10%), sedangkan yang disirami zakatnya seperduapuluh (5%).
3.   Dikeluarkan ketika panen
Firman Allah swt. :”…Dan bayarkanlah zakatnya di hari panen ” (QS. 6 : 34)

Cara penghitungan zakat pertanian
Contoh :
Bpk. Abdullah adalah seorang petani, sawahnya yang berjumlah 2 Ha ia tanami padi. Selama pemeliharaan ia mengeluarkan biaya sebanyak Rp 5.000.000,-. Ketika panen hasilnya sebanyak 10 ton beras. Berapa zakat yang harus dikeluarkannya ?

Jawab :
Ketentuan zakat hasil tani :
- Nishab 653 kg beras
- Tarifnya 5%
- Waktunya : Ketika menghasilkan ( Panen )
Jadi zakatnya :
Hasil panen 10 ton = 10.000 kg (melebihi nishab)
10.000 x 5% = 500 kg
Jika dirupiahkan ;
Jika harga jual beras adalah Rp 7.000,- maka 10.000 x 7.000 = Rp 70.000.000
70.000.000 – Rp. 5.000.000 x 5% = Rp 3.250.000,-

C. ZAKAT PERNIAGAAN

Pengertian
Zakat perniagaan adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga.
Ketentuan zakat perniagaan
1. Nishab zakat niaga adalah senilai dengan 85 gram emas
2. Usaha tersebut telah berjalan selama 1 tahun
3. Kadar yang dikelaurkan adalah 2,5%
4. Dapat dibayarkan dengan uang atau barang
5. Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan

Cara penghitungan :
(Modal diputar + keuntungan + piutang) – (hutang + kerugian) x 2,5% = Zakat
Contoh : Ibu Azizah seorang pedagang kelontong, walaupun tokonya tidak begitu besar ia memiliki aset (modal) sebanyak Rp 60.000.000,- ia mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 3.000.000,- /bulan. Usaha itu ia mulai pada bulan Januari 2010, setelah berjalan 1 tahun pada bulan tersebut ia mempunyai piutang yang dapat dicairkan sebesar Rp 3.000.000,- dan hutang yang harus ia bayar pada bulan tersebut sebesar Rp 3.100.000,-.

Jawab
Zakat dagang dianalogikan kepada zakat emas, nishabnya adalah 85gr emas, mencapai haul dan dengan tarif 2,5%.
Aset atau modal yang dimiliki Rp 60.000.000,-
Keuntungan setiap bulan Rp 3.000.000,- x12 = 36.000.000,-
Piutang sejumlah Rp 3.000.000,-
Hutang sejumlah Rp 3.100.000,-
Penghitungan zakatnya adalah
(Modal + untung + piutang ) – (hutang ) x 2,5%= zakat
(60.000.000 + 36.000.000 + 3.000.000) – (3.100.000,-) x 2,5% = Rp 2.397.500,-
Jadi zakatnya adalah Rp 2.397.500,-

D. ZAKAT PROFESI

Pengertian

Zakat profesi atau zakat pendapatan adalah zakat harta yang dikeluarkan dari hasil pendapatan seseorang atau profesinya bila telah mencapai nishab. Seperti karyawan, dokter, notaris dan lain-lain.

Landasan syar’i zakat profesi

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” Q.S. Al Baqarah : 267
Ayat diatas menunjukan lafadz atau kata yang masih umum ; dari hasil usaha apa saja, “…infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” dan dalam ilmu fiqh terdapat kaidah “Al “ibrotu bi Umumi lafdzi laa bi khususi sabab”, “bahwa ibroh (pengambilan makna) itu dari keumuman katanya bukan dengan kekhususan sebab.” Dan tidak ada satupun ayat atau keterangan lain yang memalingkan makna keumuman hasil usaha tadi, oleh sebab itu profesi atau penghasilan termasuk dalam kategori ayat diatas.


Pendapat Sahabat dan Tabi’in tentang harta penghasilan

Para ulama salaf memberikan istilah bagi harta pendapatan rutin /gaji seseorang dengan nama “A’thoyat”, sedangkan untuk profesi adalah “ Maal Mustafad”, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, diantaranya Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz. Abu ‘Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan “Ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya.” Abu Ubaid juga meriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya, …”

Cara Mengeluarkan Zakat Profesi

 DR. Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : 469-472

Beberapa pendapat yang muncul mengenai nishab dan kadar zakat profesi, yaitu:
1.   Menganalogikan secara mutlak zakat profesi kepada hasil pertanian,
baik nishab maupun kadar zakatnya. Dengan demikian nishab zakat profesi adalah 653 kg beras dan kadarnya 5% dan dikeluarkan setiap menerima.
2.   Menganalogikan secara mutlak dengan zakat perdagangan atau emas.
Nishabnya 85 gram emas, dan kadanya 2,5% dan dikeluarkankan setiap menerima, kemudian penghitungannya diakumulasikan atau dibayar di akhir tahun.
3.   Menganalogikan nishab zakat penghasilan dengan hasil pertanian.
Nishabnya senilai 653 kg beras, sedangkan kadarnya dianalogikan dengan emas yaitu 2,5 %. Hal tersebut berdasarkan qiyas atas kemiripan (syabah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni :
Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen
    (hasil pertanian).
Model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang.
   Oleh sebab itu bentuk harta ini dapat diqiyaskan dalam zakat harta
            (simpanan/kekayaan) berdasarkan harta zakat yang harus dibayarkan        
            (2,5 %).

Pendapat ketiga inilah yang diambil sebagai pegangan perhitungan. Ini berdasarkan pertimbangan lebih maslahah bagi muzaki dan mustahik. Mashlahah bagi muzaki adalah apabila dianalogikan dengan pertanian, baik nishab dan kadarnya. Namun, hal ini akan memberatkan muzaki karena tarifnya adalah 5 %.
Sementara itu, jika dianalogikan dengan emas, hal ini akan kurang berpihak kepada mustahik karena tingginya nishab akan semakin mengurangi jumlah orang yang sampai nishab. Oleh sebab itu, pendapat ketiga adalah pendapat pertengahan yang mempehatikan mashlahah kedua belah pihak (muzaki dan mustahik).
Adapun pola penghitungannya bisa dihitung setiap bulan dari penghasilan kotor menurut pendapat DR. Yusuf Qardhawi, Muhammad Ghazali dan lain-lain.
Dalam realitanya di Indonesia setiap penghasilan tetap sudah dikenakan pajak penghasilan(PPH) maka yang lebih realistis perhitungan zakatnya dari take home pay.



Contoh :
Bapak Ahmad adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Setiap awal bulan ia mendapat gaji dari perusahaan tersebut (take home pay) sebesar Rp 8.000.000,-. Dari gaji tersebut beliau keluarkan untuk kebutuhan pokok, biaya rumah tangga (dapur) sebesar Rp 3.000.000,-, untuk sekolah 2 orang anaknya sebesar Rp 1.000.000,-, membayar cicilan rumah sebesar Rp 750.000,-, bayar telepon dan listrik 500.000,-
Apakah bpk. Ahmad wajib membayar zakat ? Jelaskan !!
Jawab :
Bpk. Ahmad terkena kewajiban bayar zakat dengan penghitungan sebagai berikut
8.000.000 x 2,5% = Rp 200.000,-

E. ZAKAT UANG SIMPANAN ATAU DEPOSITO

• Uang Simpanan
Uang simpanan dikenakan zakat dari jumlah saldo akhir bila telah mencapai nishab dan berjalan selama 1 tahun. Besarnya nishab senilai 85 gram emas. Kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5%.

Contoh:
Seorang Direktur di sebuah perusahaan swasta terkenal membuka rekening tabungannya pada awal bulan Oktober 2013 sebesar Rp 50.000.000,- pada tanggal 24 Oktober ia menyimpan sebanyak Rp 10.000.000,- kemudian dua hari setelah itu ia menyimpan kembali sebanyak Rp 5.000.000,- pada bulan November ia mengambil untuk sebuah keperluan sebesar Rp 20.000.000,- lalu mulai bulan Januari sampai bulan September ia menyisihkan uangnya untuk ditabung setiap bulannya sebesar Rp 1.000.000,-

Jawab :
Zakat tabungan dianalogikan dengan zakat emas nishabnya adalah 85gr emas dan mencapai haul dengan tarif 2,5%. dihitung dari saldo akhir.



Penghitunga zakatnya adalah 54.000.000x 2,5% = 1.350.000
Jadi zakatnya adalah Rp 1.350.000,-

• Deposito

Zakat simpanan deposito dihitung dari nilai pokoknya. Misalnya seorang yang memiliki deposito pertanggal Rp 100.000.000 dengan jumlah bagi hasil selama setahun adalah Rp 7.000.000,- maka zakatnya adalah Rp 107.000.000 x 2.5 % = Rp 2.675.000.

F. ZAKAT PERUSAHAAN

Dalam menghitung zakat perusahaan, ketentuan dan cara menghitung zakatnya disetarakan dengan zakat perdagangan.

Catatan: Apabila perusahaan menyertakan modal dari pegawai non muslim, maka penghitungannya setelah dikurangi kepemilikian modal atau keuntungan pegawai non muslim tersebut.

G. ZAKAT INVESTASI

Zakat invesatasi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil investasi, seperti mobil, rumah, dan tanah yang disewakan. Dengan demikian zakat investasi dikeluarkan dari hasilnya bukan dari modalnya.

Contoh:
Hj. Azmi adalah seorang yang kaya raya, ia memiliki rumah kontrakan berjumlah 20 pintu, ia menyewakan rumah kontrakannya, perbulannya seharga Rp 500.000,-/rumah.. Setiap bulannya Hj Azmi mengeluarkan Rp 1.500.000,- untuk biaya perawatan seluruh rumah kontrakannya.

Jawab.
Penghasilan dari rumah kontrakan dianalogikan dengan zakat investasi, yaitu nishabnya senilai 653 kg beras dengan tarif 5% dari bruto dan 10% dari netto.
Setiap bulannya Hj. Azmi memiliki penghasilan sebanyak 20 x 500.000 = Rp 10.000.000,-

Ada 2 cara dalam menghitung zakatnya
- Bruto Rp 10.000.000 x 5% = 500.000 jadi zakatnya adalah Rp 500.000,-
- Netto 10.000.000 – 1.500.000 = 8.500.000 x 10% = 850.000, jadi zakatnya
   adalah Rp 850.000,-




H. ZAKAT HADIAH DAN SEJENISNYA

A. Zakat Hadiah

Hadiah adalah sesuatu yang didapatkan oleh seseorang setelah ia sukses dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
1.   Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut nyaris tidak ada usaha jerih
payah sama sekali baik tenaga maupun pikiran, maka hadiah tersebut mirip rikaz, zakatnya 20%.
2.   Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut tanpa usaha yang signifikan, zakatnya 10%.
3.   Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut ada usaha yang signifikan tetapi tidak dominan, zakatnya 5%.
4.   Apabila dalam mendapatkan hadiah tersebut ada usaha jerih payah baik tenaga maupun pikiran, seperti want’s to be a milioner, maka zakatnya 2,5%.

B. Zakat Hibah

Hibah adalah suatu pemberian yang didapatkan oleh seseorang.
1. Jika hibah tersebut tidak di duga-duga maka zakatnya 20%
2. Jika hibah tersebut diduga tetapi tanpa ada kontribusi dari jasa yang langsung   
    atau tidak dari penerima, maka zakatnya 10%
3. Jika hibah tersebut diduga dan ada kontribusi jasa dari penerima, maka
    zakatnya 5%

I. ZAKAT PETERNAKAN

Syarat-syarat ternak
1. Mencapai nishab
2. telah dimiliki selama satu tahun
3. Digembalakan
4. Tidak dipekerjakan

A. Zakat Unta
Nishab Zakat
5 – 9 1 ekor kambing
10 – 14 2 ekor kambing
15 – 19 3 ekor kambing
20 – 24 4 ekor kambing
25 – 35 1 ekor anak unta betina (berumur 1 tahun lebih)
36 – 45 1 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
46 – 60 1 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)
61 – 75 1 ekor anak unta betina (berumur 4 tahun lebih)
76 - 90 2 ekor anak unta betina (berumur 2 tahun lebih)
91 – 120 2 ekor anak unta betina (berumur 3 tahun lebih)

B. Zakat Kambing
Nishab Zakat
40 – 120 1 ekor kambing
121 – 200 2 ekor kambing
201 – 300 3 ekor kambing
Setiap bertambah 100 ekor 1 ekor kambing

C. Zakat Sapi
Nishab Zakat
30 – 39 1 ekor anak sapi jantan atau betina berumur 1 tahun
40 – 59 1 ekor anak sapi betina berumur 2 tahun
60 – 69 2 ekor anak sapi jantan atau betina berumur 1 tahun
70 – 79 2 ekor anak sapi betina berumur 2 tahun dan 1 ekor anak
sapi jantan umur 1 tahun


 



Beberapa pertanyaan seputar zakat

1. Bolehkah dana zakat untuk program kesehatan, dan bea siswa pendidikan ?

Jawaban :
Pada dasarnya zakat disalurkan kepada mereka yang berkekurangan khususunya fakir miskin, oleh si penerima (mustahik) dapat digunakan untuk menunjang kehidupannya, termasuk kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian LAZ atau amil Zakat dibenarkan untuk langsung mengalokasikannya dalam program kesehatan bagi kalangan yang tidak mampu atau beasiswa
pendidikan anak-anak yang tidak mampu, jika diberikan langsung berupa uangnya dikhawatirkan akan habis untuk biaya konsumtif.

2. Bolehkah dana zakat disalurkan melalui transfer, dan SMS zakat ? lalu bgm dengan ijab kabulnya ?

Jawaban :
Bagi si muzakki bisa menyalurkannya melalui saluran apapun yang menjamin zakat sampai kepada lembaga amil atau mustahik secara langsung termasuk melalui sms, transfer dan sms zakat. Sebagai ijabnya adalah ketika melakukan transfer dan qabulnya adalah secara hukum ketika diterima oleh lembaga dan secara syakli (bentuk) ketika diumumkan atau dikonfirmasi kembali.

3. Bisakah dana zakat diperuntukan untuk biaya renovasi masjid / musholla yang sedang terhutang oleh pihak matrial ?

Jawaban :
Kalau pembangunan masjid di daerah minus dapat ditunjang oleh dana zakat, adapun kalau di daerah yang tingkat kesadaran beragama dan sosial ekonomi sudah relatif baik, sebaiknya tidak mengalokasikan dana zakat. Hal ini untuk menggerakkan semangat infak dan wakaf kaum muslimin sedangkan zakat dapat difungsikan untuk pemberdayaan fakir miskin.

4. Bisakah dana zakat diberikan untuk modal bergulir ?

Jawaban :
Kepemilikan mustahik atas harta zakat itu adalah kepemilikan kolektif bukan orang perorang. Pemanfaatan kepemilikan yang bersifat kolektif itu dapat dialokasikan secara fisik dan berupa manfaatnya. Pembagian manfaat dapat disalurkan dalam bentuk modal bergulir, tidak harus secara fisik berupa uangnya. Jika hal tersebut dipandang lebih mashlahat dan mendidik bagi mustahik.



5. Lebih baik mana dana zakat dikelola secara sendiri ( langsung kepada yang membutuhkan ) atau melalui amil zakat ?

Jawaban :
Lebih afdhol kepada lembaga amil, karena :
A. Lebih sesuai dengan Firman Allah swt. QS. Al Maidah : 103
B. Dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya, setiap yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya tentunya menunjukan hal yang lebih baik.
C. Muzaki lebih dapat memelihara keikhlasannya.
D. Amil lebih dapat konsentrasi dalam mengelola dana zakat.
E. Pemerataan yang proporsional
F. Doa dari Amil.
G. Mustahik lebih terjaga harga dirinya.

6. Kenapa masih banyak orang yang mengatakan bahwa zakat profesi tidak ada dalam alqur’an dan sunnah ?

Jawaban :
Istilah zakat profesi memang tidak ada dalam al-Quran dan Hadits karena sejatinya ia merupakan bagian dari zakat maal. Dan ayat tentang kewajiban mengeluarkan zakat maal sudah jelas. Dari sisi penghasilan, profesi merupakan zakat pendapatan (kasab) dan ayat tentang zakat pendapatan (kasab) sudah jelas di dalam al Quran surat Al Baqarah ayat 267. Dari sisi keadilan, petani yang menghasilkan 1 ton padi dikenakan zakatnya sedangkan para profesional yang gaji bulanannya jutaan kalau tidak dikenakan zakatnya tidak mencerminkan keadilan.

7. Jika kami pengurus LAZ perusahaan, dapatkah dana zakat yang kami kelola habis untuk ke satu asnaf ? lalu bagaimana dengan asnaf yang lain ?

Jawaban :
Pengurus LAZ sebagai pemegang amanah harus berbuat adil dan proporsional dalammengalokasikan dan mendistribusikan zakat. Kalau rasa keadilan mengharuskan untuk membagi zakat untuk beberapa ashnaf yang ada, itulah yang harus dilakukan, tetapi kalau sudah terlanjur membagi ke 1 ashnaf saja tidak mengakibatkan batal, namun untuk periode berikutnya harus mempertimbangkan prinsip keadilan.



 

8. Mengapa pada zakat investasi 10 % terletak pada Netto sedangkan 5 % pada bruto ? katanya dianalogikan dengan pertanian tetapi sebaliknya tidak beranalogi dengan pertanian ?

Jawaban :
Dalam zakat pertanian kadar 5% mempertimbangkan adanya beban biaya termasuk didalamnya pestisida dan pupuk, sedangkan 10% jika tidak memasukan pertimbangan beban biaya tersebut.
Dalam zakat investasi 5% dari bruto jika harus memasukan beban biaya yang dibayarkan, dan 10% dari netto jika tidak ada beban biaya yang harus dibayarkan.

9. Apakah bagi hasil pada uang simpanan juga di hitung zakatnya ?

Jawaban :
Bagi hasil dalam zakat uang simpanan komponen termasuk yang dihitung zakatnya, karena bagi hasil pada uang saimpanan menjadi hak kepemilikan yang bersangkutan.

10. Apakah asuransi harus dikeluarkan zakatnya ?

Jawaban :
Asuransi dikeluarkan zakatnya ketika pembayaran klaim
- Jika klaim asuransi yang diterima jauh lebih besar dari nilai premi yang  
  dibayarkan, afdholnya mengeluarkan zakat sebesar 5%, karena mendapatkan
  klaim melebihi tidak melalui jerih payah.
- Premi yang ada di perusahaan asuransi yang dibayarkan ke perusahaan
  asuransi tidak lagi menjadi kepemilikan peserta, tetapi menjadi hak milik
  perusahaan bagi asuransi konvensional atau menjadi hak milik para anggota
  bagi asuransi syariah dengan demikian kepemilikan peserta /nasabah atas
  premi yang dibayarkan bersifat tidak sempurna, karena itu tidak wajib dizakati.

11. Apakah dana tunjangan pensiun dikeluarkan zakatnya ?

Jawaban :
Dana pensiun yang diterima merupakan penghasilan, apabila mencapai nishab dikeluarkan zakatnya 2,5%.







12. Orang tua saya seorang pegawai dalam sebuah perusahaan, dalam aturan kepegawaian jika seorang pegawai meninggal dunia, ahli warisnya akan mendapatkan tunjangan dari perusahaan, pertanyaannya, apakah tunjangan teresebut dikeluarkan zakatnya ?

Jawaban :
Tunjangan pegawai yang meninggal dunia yang diterima oleh ahli warisnya merupakan bagian dari warisan. Harta warisan apabila nilainya mencapai nishab setelah dikeluarkan kewajiban dan biaya-biaya yang terkait dengan almarhum, maka dikeluarkan zakatnya, lebih afdhol sebelum dibagikan kepada tiap ahli waris, sesuai dengan kaidah bahwa harta bersama tidak dibagikan dahulu jika akan berdampak pada tidak direalisasikannya zakat.



Sadur Ulang by : Nduts
Disadur dari PANDUAN ZAKAT PRAKTIS/PKPU



Profile Tokoh

More on this category »

Video

More on this category »
 
::
© Copyright PKS Bogor 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.