News Update :
::

Pilihan

Khas Bogor

Partai Keadilan Sejahtera

BPK: Jawa Barat Contoh Kinerja Keuangan Pemda yang Baik

Thursday, March 5, 2015

AMBON (27/2) - Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Provinsi (APPSI) Ahmad Heryawan (Aher) menegaskan pengawasan ketat pemanfaatan Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) adalah keniscayaan. Meski demikian, dibutuhkan terobosan strategi pengawasan baru agar proses pembangunan berjalan maksimal.
"Pengawasan harus, tetapi prosesnya perlu semakin mudah dan efektif. Jadi, para kepala daerah berharap ada terobosan baru," ujar Aher, yang tampil bersama Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Azis, dalam Diskusi Panel II Rapat Kerja APPSI 2015 membahas strategi pengawasan keuangan daerah.
Ditegaskan pula usulan dan harapan para Gubernur terhadap mekanisme pengawasan tentu tetap tidak menoleransi sedikitpun kebocoran anggaran. Namun, kata Aher, metode pengawasan jangan sampai menjadi bagian kendala pelaksanaan program pembangunan.
"Ini semua dalam rangka penyelamatan keuangan negara. Juga demi kelancaraan jalannya pembangunan demi perwujudan peningkatan kesejahteraan masyarakat," papar Aher.
Ditambahkan, para kepala daerah berharap BPK senantiasa mendampingi daerah dalam penyusunan, pemanfaatan, dan pelaporan seluruh anggaran negara di daerah.
"Sistem sekarang kadang terasa sulit, namun melalui pengawasan dan bimbingan BPK, Insya Allah akan beres," papar Aher, yang berhasil mengawal Pemprov Jawa Barat meraih opini “Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)” atas pertanggungjawaban keuangannya tiga kali berturut-berturut.
Sementara itu, Ketua BPK Harry Azhar Azis mengawali paparan dengan menyajikan data pencapaian opini WTP tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Perolehan akreditasi WTP tahun demi tahun meningkat meski belum sebagian besar daerah.
Pada kesempatan yang sama, Harry menyinggung kinerja Pemprov Jawa Barat (Jabar) soal kinerja dan pertanggungjawaban keuangannya. Jabar kini berupaya mencatat prestasi pencapaian opini WTP empat kali berturut-turut.
"Secara keseluruhan, kementerian dan lembaga telah 74 persen memperoleh opini WTP. Namun, tingkat pemerintah daerah masih relatif agak lambat yakni 34 persen dari seluruh unitnya," papar Ketua BPK lagi.
Mengenai temuan indikasi pelanggaran pemanfaatan keuangan daerah, Harry mengatakan BPK memberi waktu 60 hari bagi instansi bersangkutan untuk membetulkan laporannya. Bila ada selisih atau sisa pemanfaatan anggaran dengan laporan, maka pihak instansi dimaksud dapat mengembalikan uang negara.
"Kalau laporan diperbaiki dan uang dikembalikan, maka dianggap tidak ada penyalahgunaan uang negara. Tidak ada kerugian negara di sini. Tetapi, bila dalam 60 hari uang tidak dikembalikan, maka BPK akan meneruskan prosesnya ke aparat penegak hukum," jelas Harry.
Diskusi Panel II mengenai pengawasan keuangan daerah merupakan salah satu agenda dalam Rapat Kerja Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Tahun 2015. Rapat kerja diikuti Gubernur se-Indonesia dan dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla di halaman belakang kediaman dinas Gubernur Maluku, Kota Ambon pada Kamis (26/2). Forum yang mengangkat tema “Konsolidasi Pemerintah Daerah Menyongsong Implementasi UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah” tersebut bertujuan mengakselerasi kinerja pemerintah daerah yang lebih berkualitas sesuai Undang-Undang, termasuk dalam hal pengawasan keuangan.
Keterangan Foto: Ketua Dewan Pengurus APPSI yang juga Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (kanan) bersama Ketua BPK RI, Harry Azhar Aziz (kiri) saat menemui pewarta di sela Rapat Kerja APPSI 2015 di Ambon (27/2).
Sumber: Humas Pemprov Jawa Barat

Umat Islam Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Tuesday, February 10, 2015


Yogyakarta (9/2) – Sepanjang sejarah perjalanan bangsa Indonesia, umat Islam memiliki peran yang strategis. Pada fase-fase penting sejarah umat Islam senantiasa tampil memberikan solusi terhadap beragam persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid mengemukakan hal itu di hadapan para peserta Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VI, Minggu (8/2) malam di Yogyakarta.

“Jadi sejak dulu peran umat Islam demikian besar dalam sejarah bangsa Indonesia,” kata Hidayat.

Karenanya Hidayat berharap, KUII ke-VI ini menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang makin memperkuat peran umat Islam. Bukan hanya untuk umat Islam di Indonesia tetapi juga umat Islam di berbagai belahan dunia.

“Kongres Umat Islam Indonesia keenam ini kita harapkan menghasilkan gagasan baru untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia, terutama terkait politik, ekonomi, sosial dan budaya,” harap Hidayat.

Hidayat menilai, tema yang diambil dalam KUII ke-VI ini, yakni penguatan peran politik, ekonomi, dan budaya umat Islam untuk Indonesia yang berkeadilan dan berperadaban menunjukkan selama ini umat Islam memang sudah dan terus berkontribusi besar untuk Indonesia.

“Hanya saja, kontribusi itu belum sebanding dengan kapasitas umat sebagai mayoritas penduduk Indonesia,” imbuhnya.

Menurut Hidayat, kebangkitan umat Islam adalah benih kebangkitan Indonesia, baik dari segi ideologi nasionalisme, politik, maupun ekonomi,” jelas dia.
Lebih Hidayat mengemukakan, dunia saat ini sedang menunggu peran umat Islam yang ada di Indonesia. Pasalnya, selain sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, Islam di Indonesia juga memiliki ciri yang khas, yaitu moderat atau toleran.

Ciri ini menjadikan umat Islam Indonesia diharapkan perannya yang lebih besar dalam kancah dunia internasional.

Dalam kesempatan itu Hidayat menyinggung soal bangsa Palestina, yang hingga kini belum terbebas dari penjajahan Israel. “Peran umat Islam Indonesia ditunggu untuk dapat membantu rakyat Palestina keluar dari belenggu penjajahan, untuk mewujudkan kemerdekaan bagi bangsa Palestina,” tegas dia.
 

sumber : pks.or.id
 

Anis Matta: Sudah Saatnya Parpol dan Ormas Islam Berkumpul Bentuk Majelis Syuro

Monday, February 9, 2015

Yogyakarta (9/2). Umat Islam Indonesia sudah waktunya membentuk sebuah majelis yang mempertemukan para pimpinan partai dan ormas Islam. Majelis ukhuwah dan musyawarah para pemimpin Islam di Tanah Air untuk menyelesaikan segala permasalahan umat dan bangsa.
"Saya ingin mengusulkan satu hal bahwa kita perlu melakukan pendekatan yang lebih konsolidatif lagi, sudah waktunya kita ini ada majelis, antara pimpinan partai-partai Islam dengan pimpinan ormas-ormas Islam, supaya apa yang dibicarakan di dalam ormas, ini juga menjadi pembicaraan di dalam partai politik atau yang menjadi masalah partai politik ini juga dibicarakan oleh ormas-ormas islam," kata Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta dalam pidatonya di acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) 2015 yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin, (9/2/2015).
Anis menjelaskan, dengan berdirinya majelis tersebut, setiap permasalahan keumatan yang dihadapi umat Islam di Indonesia akan mudah diselesaikan.
Pendirian majelis ini, lanjut pria kelahiran Bone ini, didasari oleh 3 level yang sudah dilewati partai-partai Islam. "Yang pertama adalah pada level identitas, yang kedua pada level kepentingan, dan yang ketiga pada level kepemimpinan," tuturnya.
Pada level identitas, lanjut Anis, partai Islam telah banyak melahirkan undang-undang yang memberikan ruang bagi pengembangan identitas sebagai Muslim.
"Ambil contoh, misalnya yang terakhir ini masalah jilbab untuk polwan, yang itu mungkin tidak pernah terbayangkan beberapa tahun yang lalu. kalau yang undang-undang seperti perbankan Islam dan seterusnya sudah relatif berjalan sebelumnya, itu yang menyangkut undang-undang yang terkait identitas, dan juga penolakan undang-undang gender, ini semuanya berkaitan dengan identitas," papar mantan Wakil Ketua DPR RI ini.
Sedangkan di level kepentingan, masih kata Anis, partai-partai Islam juga banyak melakukan perjuangan pada level ini. "Seperti yang sudah disampaikan Pak Din misalnya tentang Undang-Undang Sumber Daya Alam, kita memang juga banyak melakukan perjuangan di sini, tetapi menurut saya, pencapaian dalam hal ini memang pertarungannya yang lebih keras, dalam bidang penegasan identitas saya kira pencapaian kita relatif lebih bagus daripada masalah kepentingan ini," ujarnya.
Sementara itu, pada level level kepemimpinan, menurut Anis, partai-partai Islam di DPR khususnya dan banyaknya jabatan-jabatan publik sekarang ini yang dinominasikan melalui DPR, sudah menguntungkan banyak sekali termasuk ormas-ormas islam.
Sehingga menurut Anis, meskipun masih banyak kelemahan yang harus dibenahi, dengan 3 level ini, perjuangan partai dan ormas Islam relatif berjalan dengan baik.
sumber : pks.or.id

Banjir Tiba, Kader PKS Siapkan Nasi Bungkus

Jakarta (9/2) - Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Cakung Timur turut memberikan nasi bugkus kepada para korban banjir yang menimpa warga Kelurahan Cakung Timur, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.. Hal ini berdasarkan penuturan salah seorang kader PKS Cakung Timur Sumali, Senin (9/2).
Sumali mengatakan, nasi bungkus yang akan didistribusikan kepada para korban banjir disiapkan para kader PKS Cakung Timur di kediaman salah satu kader PKS Cakung Timur, H Erwin.
"Alhamdulillah sebagian Cakung aman sebagian dari kita sudah siapkan nasi bungkus," kata Sumali.
Menurut Sumali, ketua DPRa PKS Cakung Timur, Profianto saat ini sedang turun ke lapangan untuk meninjau banjir di daerahnya.
"Wilayah Cakung Timur kondisi air masuk rumah, ibu-ibu tidak bisa masak, efeknya keluarga pada beli makanan disitulah kita berinteraksi dengan warga," lanjut Sumali.
Dari keterangan yang didapat, air masuk rumah warga sekitar pukul 06.00 WIB dengan ketinggian sepinggang orang dewasa.
Sumber: PKS Cikarang Timur


Aher Dukung Penuh Pengembangan Bela Diri Karate

Saturday, February 7, 2015

BANDUNG (7/2) – Pengembangan diri melalui olahraga karate tidak hanya terkait dengan prestasi, tetapi juga keselamatan diri. Olahraga bela diri juga dapat memberikan dampak yang positif, seperti menumbuhkan kepercayaan diri dan kewibawaan.
“Beladiri bukan untuk kesombongan, tapi dapat menjadi skill dalam menumbuhkan kewibawaan dan kepercayaan diri,” ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dalam sambutannya saat dikukuhkan sebagai Dewan Penasihat Bandung Karate Club (BKC) di Aula Gedung Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Jabar, Sabtu (7/2).
Berkaca dari hal tersebut, Aher berinisiatif untuk memperbanyak cabang-cabang BKC dan ingin menyebarluaskan bela diri hingga ke desa-desa.
"Saya bangga akan BKC, jadi sangatlah wajar bila saya ingin beladiri lebih diterapkan pada masyarakat. Ajarkan di pesantren, sekolah, dan perbanyak lagi cabang-cabang BKC di Jabar," tambahnya.
Pada pengukuhan tersebut Gubernur Aher sempat melakukan push up 11 kali, sit up 11 kali, dan scot jump 11 kali. Selain Gubernur, pengukuhan tersebut juga dihadiri para ketua dan pengurus dari 20 cabang BKC. Hadir pula Ketua Dewan Guru BKC Iwa Rahardian Arsanata, Ketua Umum PB BKC Agus Santoso, serta Ketua Umum FORKI Jabar Ogi Gianto. 
Sumber: Humas Pemprov Jawa Barat

Gubernur Sibuk, Kapan Tilawahnya?

Sunday, February 1, 2015

Enaknya paham Bahasa Arab ya itu! Menjadi mudah untuk hafal, dan memahami Alquran. Tilawah, kesyahduan membacanya betul-betul dapat menjadi rekreasi jiwa, kelihatannya luruh seketika letih dunianya.
Sepertinya ringan sekali, obrolan-obrolan ringan syarat makna dari beliau, diselingi dan di-ekstrak dari ayat ayat Alquran. Sampai pada pidato resmi di Gedung Sate, tidak sulit mencari makna-makna dari Alquran yang sesuai dengan tema yang sedang dibawakan. Ayat-Ayat kitab suci ini tidak lagi hanya dipakai pada ceramah keagamaan, sekarang sudah dipakai sebagai literatur mengurus pemerintahan.
Tidak sulit menemukan Kang Aher sedang membaca Alquran; di pesawat, kereta api, di mobil. Spesial jadinya kalau ba’da dzuhur sesekali kemi dapat mendengar merdu lantunan tilawahnya dari masjid. Kesimpulan ringan kami, Kang Aher tidak pernah menunggu luang waktunya cukup panjang untuk membersamai Alquran karena sulit menyediakan waktu seluang itu.
Sibuk, beliau harus menjalani kehidupan sebagai seorang Gubernur, sudah pasti itu! Karena menjadi amanah beliau saat ini. Banyak orang yang berhak atas beliau, Bu Netty dan anak anak beliau, harus benar-benar ikhlas kebagian sedikit sedikit waktu. Gerilya acara dimulai dari ketika mentari belum terbit, usainya pun sering lewat tengah malam, tidak juga berlaku libur akhir pekan. Kuantitas sama sekali bukan pilihan untuk setiap perannya, kualitas jalan tengahnya.
Tapi tidak dengan Alquran, ada kebutuhan minimal 1 kali khatam sebulan. Kebutuhan ruhiyah yang justru menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan tugas – tugas lainnya, yang justru menjadi penjaga, yang justru menjadi rekreasi jiwanya.
Tentu!
Apa yang kang Aher lakukan ini menjadi tanda, menjadi ajakan, menjadi perintah tak terucap bagi kami untuk meneladaninya, menjadi motivasi bagi kami untuk mengejar.
Kian hari, amanah bukan kian berkurang, malah makin banyak, makin sedikit waktu luangnya, makin sempit. Waktu waktu luang di antara agenda-agenda harian, agenda duniawi, memang harus dapat dimanfaatkan seefektif mungkin untuk kebutuhan kebutuhan jiwa, kebutuhan ruhiyah, untuk tilawah.
Penulis: Aki Awan (Kontributor Dakwatuna)
Keterangan Foto: Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan sedang tilawah (membaca) Al-Quran. (Aki Awan)
Sumber: http://www.dakwatuna.com

PKS Selalu Bikin Setress

Sunday, December 1, 2013


By: Nandang Burhanudin
****

Entahlah, mengapa apapun yang berbau PKS selalu menarik untuk dicermati, dikomentari, diikuti, atau dibully dan disindir dengan ragam kemasan atas nama. Apa yang bagi ormas/partai lain lumrah, bagi PKS akan dinilai salah. Apa yang wajar bagi yang lain, bagi PKS diposisikan kurang ajar. Lucunya jika ada prestasi, banyak yang menganggapnya sepi. Jika ada tragedi, semua teriak berapi-api.

Saya perhatikan, ada akun FB yang setiap kali statusnya menyerang, menerjang, menelanjangi, bahkan mengangkangi. Ibarat suami yang telah bercerai. Aib mantan istrinya diumbar hingga pada hal-hal yang tak pantas disampaikan. Dianggap kader-kader yang masih setia, semuanya bahlul, dungu, mudah dibohongi, dan tuduhan lainnya. Sedikitpun tak ada lagi husnuzhan. Seakan baik sangka adalah maksiat. Ia nyuruh-nyuruh bertobat. Namun ia pun lupa bertobat atas caci maki yang dianggap nasihat.

PKS benar-benar menjadi common enemy. JIL menyebut PKS, antinasionalis. HT menganggap tidak Islamis. Kadang disebut Wahabis. Kadang pula dianggap ahli bid'ah. Julukan yang superlengkap. Seakan semua gerah, gelisah, dan tidak merasa tumakninah. PKS benar-benar bikin stress.

Bayangkan, di tengah "badai LHI" menggelegar, kader-kader PKS malah makin tegar. Kasus LHI mendekatkan yang jauh, merekatkan yang dekat, malah mengundang penasaran kebanyakan khalayak. Isu Fusthun, malah membuat para akhwat-ummahat PKS semakin santun. Para ustadznya semakin tekun. Musibah tak membuat kader-kadernya datang ke dukun. Semua sadar bagian takdir Allah Yang Maha Kun Fayakun.

Hasil taubat nasional benar terasa. Jika ragam kemenangan dianggap biasa, maka bagi saya "tidak bubarnya" PKS adalah fenomena luarbiasa. Bahkan tak satupun pengurus inti PKS yang terjebak saling menyalahkan. Apalagi melakukan aksi somasi atau pencabutan mandat seperti lumrah terjadi di tempat lain. Tambah stress bukan?

Saya sebagai pengamat yang tak tercatat sebagai pengurus PKS, benar-benar meyakini: ke depan kalangan stressiyyun akan bersatu padu menyiapkan cara, agar PKS tak sampai berkuasa. Jika pun berkuasa, maka diupayakan agar tak sampai satu tahun.

Namun PKS nampaknya punya resep mujarab. Resep itu adalah: selalu menengok ke dalam dan mengerti caci maki adalah energi, hinaan adalah ujian, bahkan fitnah adalah anugerah terindah. Saya doakan, PKS mampu menjadikan diri pelayan yang berdedikasi bagi masyarakat. Tidak usah reaktif menanggapi kicauan. Toch mentalitas stress tak akan sembuh, kecuali saat PKS terjerumus ke dalam stress yang sama. []
:: pkspiyungan.org

Anis Matta: Tatap Muka dengan Warga, Cara Ampuh PKS Menang


JAKARTA - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta mengaku tak memiliki cukup uang untuk memasang iklan.

"Kami ini tak cukup banyak uang untuk mengiklankan partai di televisi," ungkap Anis saat bertandang ke MNC Plasa, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (27/11/2013).

Selain alasan tersebut, kata Anis, masalah yang membuat PKS belum memasang iklan partai hingga saat ini yakni adanya konsultan politik partai menyarankan agar tak terburu nafsu untuk mejeng di televisi.

"Kalau sudah masuk Januari 2014 itu baru penting. Asal dapat diskon saja," candanya.

Untuk itu, sambung dia, dalam menarik suara pada gelaran Pemilu, PKS lebih mengedepankan mengoptimalkan kader yang tersebar di seluruh provinsi.

"Tatap muka dengan warga, menjadi cara ampuh kami untuk dapat menarik suara masyarakat," tutupnya.

*okezone
:: pkspiyungan.org

Tipu Daya Para Penghambat Dakwah Parlemen


Oleh: Dodi Indra Permadi

DUA langkah telah dilakukan untuk menghambat perjuangan amar ma’ruf nahi mungkar di parlemen, pertama, mengharamkan parlemen dan jalan menuju ke parlemen yaitu pemilu atau demokrasi. Kedua, membentuk opini negatif dengan jalan mengungkap kelemahan, kejelekan dan kesalahan orang-orang yang berjuang di parlemen, dari dua langkah tersebut diharapankan umat Islam menjauhi dan tidak mendukung perjuangan di parlemen.

Langkah pertama sangat relevan, karena mencari hukum sebuah perbuatan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan umat Islam, tapi sayangnya, telah nyata tidak ada nash yang mengharamkannya tetap mencari-cari nash untuk mengharamkannya, sehingga mudharat yang akan didapat, karena akan dapat mengharamkan sesuatu yang tidak haram seperti libur hari Sabtu-Minggu, pajak 10%, sistem jenjang pendidikan SD sampai perguruan tinggi, gelar kelulusan atau ijazah dan banyak hal lagi yang harus diharamkan.

Langkah kedua tidak relavan, pertama, mencari-cari kelemahan dan kesalahan sesama muslim untuk membentuk citra buruk adalah larangan agama :

Abu Hurairah ra berkata : bersabda Nabi saw: “Tiada seorang yang menutupi aurat kejelekan orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat,” (HR. Muslim).

Padahal kalau memang terdapat kejelekan dan kesalahan orang-orang yang berjuang di parlemen, seharusnya diberi nasehat dan didoakan agar istiqomah dan selalu dalam kebaikan bukan malah dibuka aibnya, kedua, disebabkan sibuk mencari kelamahan dan kesalahan orang lain, dia sendiri lupa bahwa dia justru tidak mencapai kemajuan sedikitpun dalam dakwahnya dan lupa untuk instropeksi diri, padahal alangkah bermanfaatnya bila segenap tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mencapai kemajuan dakwahnya, dan ada yang lebih berbahaya dari itu semua yaitu boomerang yang sedang menuju dirinya, pepatah mengatakan senjata makan tuan, sibuk melempar boomerang ke arah musuh, tidak sadar boomerang mengarah balik ke dirinya.

Kalau kita kritis, pembentukan opini negatif oleh orang-orang yang mengharamkan parlemen yang ditujukan untuk memberikan citra negatif kepada orang-orang yang berjuang di parlemen, sebetulnya juga berlaku bagi pembuat opini itu sendiri, misalnya opini yang paling sering dihembuskan baik di internet, buku maupun diskusi face to face adalah :

Tidak mungkin syariat Islam ditegakkan melalui demokrasi yang notabene bukan dari Islam, tidak ada dalam sejarah, syariat Islam yang berhasil ditegakkan melalui parlemen dan demokrasi.

Pertama, opini tersebut dimaksudkan untuk menggiring umat Islam supaya mempunyai pemahaman bahwa orang-orang yang berjuang di parlemen tidak akan pernah berhasil untuk menegakkan syariat Islam dan akan menemui kesia-siaan. Diharapkan setelah terbentuk opini tersebut umat Islam akan menarik dukungannya terhadap perjuangan di parlemen.

Tanpa pemahaman kritis, sangat logis bila opini tersebut nampak sebagai pendapat yang benar, karena yang dinyatakan dalam opini tersebut adalah dhahir realita, yang memang realitanya tidak ada dalam sejarah, syariat Islam yang berhasil ditegakkan melalui parlemen dan demokrasi, dan pada saat inipun masih sangat jauh dan tidak mudah merealisasikannya karena harus adu bargaining dengan orang-orang kafir-sekular yang tidak bisa diremehkan.

Namun bila sedikit kritis dan mau berpikir, opini tersebut telah salah dalam menyatakan hakekat perjuangan di parlemen, kesalahannya terletak pada penggunaan “tegaknya syariat Islam” sebagai alat ukur satu-satunya untuk mengetahui keberhasilan perjuangan dalam parlemen, padahal ada alat ukur lain untuk mengetahui kadar keberhasilan, yaitu seberapa besar tambahan kebaikan dan pengurangan keburukan, dalam bahasa agama sejauh mana dapat melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Dalam kitab Al-A’lamul Muwaqqi’in Ibnu Qoyyim mengutip perkataan Ibnu Aqil : “Politik ialah adanya langkah-langkah perbuatan yang manusia dapat berada lebih dekat kepada kebaikan, dan lebih menjauhkan dari kerusakan…..”

Syaikh Albani kepada partai FIS dan kepada umat Islam Aljazair memfatwakan : “Aku katakan ini, – walaupun aku meyakini bahwa pencalonan dan Pemilu ini tidak merealisasikan sasaran yang dituju (tegaknya syariat Islam) sebagaimana keterangannya di atas.- namun dari bab membatasi kejahatan, atau menolak kerusakan yang lebih besar dengan kerusakan yang lebih kecil, seperti yang diperkatakan oleh Ahli Fiqih (maka aku nasehatkan untuk memilih dari mereka golongan muslim).” Fatwa kedua: “Syariat Islam bukanlah tujuan yang akan dapat direalisasikan, namun demikian ada tujuan lain yang dapat dan harus dicapai melalui perjuangan di parlemen dan demokrasi yaitu membatasi kejahatan, dan dalam kaidah ushul dinyatakan senada dengan fatwa syaikh Albani :

“Jika tidak bisa meraih semua maka jangan tinggalkan semuanya Bila tidak dapat merealisasikan syariat Islam secara kaffah maka jangan tinggalkan seluruhnya realisasikan walau hanya 1%.”

Al-Hafidz al-Suyuti mengutip sebuah hadits : Rasulullah saw bersabda : “Jika aku memerintahkan kepada kalian suatu perkara, maka kerjakanlah apa yang kalian mampu.”

Dan dalam al-Qur’an dinyatakan Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya QS. 2:286 dan dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman yang artinya : “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu,” (QS. 64:16).

Menutup mata terhadap point-point keberhasilan dalam perjuangan di parlemen adalah sikap yang tidak adil, tidak jujur, tidak mencerdaskan dan tidak mendewasakan umat, karena diakui atau tidak, telah banyak point-point keberhasilan tersebut dan telah dinikmati oleh umat Islam Indonesia, misalnya, kebebasan memakai jilbab, ruu sisdiknas, SKB 3 menteri lalu 2 menteri, beberapa perda yang bernuansa ke-Islam-an, kebebasan berdakwah, diberantasnya kemaksiatan yaitu dengan menangkapi pasangan bukan suami istri di dalam kamar hotel, penutupan rumah-rumah bordil, perjudian, bila kita mau adil dengan membandingkan antara rezim orde baru dengan sekarang, maka kita akan mengetahui bahwa telah ada tambahan kebaikan dan pengurangan kerusakan, atau bandingkan dengan negara-negara lain yang di dalam parlemennya tidak ada umat Islam seperti perancis, Yunani, Belanda dan lain-lain yang memakai jilbab atau untuk membangun masjid saja tidak bisa.

Menuntut kepada orang-orang yang berjuang di parlemen untuk membuktikan syariat Islam dapat tegak 100% sementara dirinya sendiri tidak menunjukkan adanya langkah nyata dalam menegakkan syariat Islam maka hal itu sama saja telah melempar boomerang untuk dirinya sendiri. Karena yang telah menunjukkan langkah nyata saja tidak dapat menunjukkan tegaknya syariat Islam karena gagal, apalagi yang belum menunjukkan langkah nyata, memang tidak ada kegagalan yang dialami tapi juga tidak ada keberhasilan, seperti orang yang tidak pergi perang, memang tidak akan mengalami kekalahan tapi dalam waktu yang sama juga tidak akan mengalami kemenangan.

Kedua, Opini di atas juga dimaksudkan menggiring umat Islam agar mempunyai pemahaman bahwa tidak adanya bukti tegaknya syariat Islam menunjukkan jalan perjuangan melalui parlemen dan demokrasi adalah bathil. Sehingga dengan yakin memberikan statemen : “Tidak mungkin syariat Islam ditegakkan melalui demokrasi.”

Tentu saja opini ini menarik untuk dikaji, karena sampai kinipun tidak ada syariat Islam yang tegak oleh perjuangan mereka, jadi menyatakan demokrasi sebagai jalan bathil karena tidak adanya syariat yang tegak melalui demokrasi, merupakan boomerang bagi dirinya sendiri, karena juga tidak ada syariat Islam yang tegak melalui jalan yang ditempuhnya, tidak dipungkiri syariat Islam pernah tegak oleh rasulullah saw, para sahabat, tabiut-tabiin, tetapi menyatakan diri sesuai sunnah dan menyatakan perjuangan di parlemen tidak sesuai sunnah perlu pengujian secara ilmiah, nabi saw berhasil menegakkan syariat Islam setelah melalui beberapa fase perjuangan seperti fase dakwah, fase penyebaran, fase menghindari konflik, fase menyusun kekuatan dan fase konfrontasi atau fase menghadapi musuh, sungguh saya mohon maaf bila bertanya, apakah orang-orang yang mengharamkan parlemen telah berusaha melalui fase-fase tersebut ?

Kalau belum, tentu saja menurut hemat saya mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemajuan dakwah adalah jauh lebih bermanfaat ketimbang mencurahkan untuk membuat opini yang menjelek-jelekkan saudara-saudara kita yang berjuang di parlemen, juga akan sangat bermanfaat bila mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk menasehati dan menghibur mereka dengan doa agar istiqomah dengan tujuannya dan diberi kesabaran atas musibah-musibah yang dialami? karena saudara-saudara kita yang berjuang di parlemen telah berusaha menempuh fase-fase itu hanya saja belum berhasil menegakkan syariat Islam dan tidak sedikit dari mereka yang harus meregang nyawa karena ketidakrelaan Barat terhadap kemenangan mereka seperti di Mesir, Turki, Aljazair dan negeri-negeri bermayoritas muslim lainnya.
Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. QS. 3:166

Atau bukankah sebaiknya tenaga dan pikiran dicurahkan untuk menempuh fase-fase seperti yang rasulullah tempuh ? Insya Allah andai-kata saudara-saudara tidak berhasil semoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal syuhada dan sebagai orang-orang yang konsisten dalam membela agama Allah, karena musuh bergerak secara nyata nonsen bila dihadapi hanya dengan retorika dan dakwah.

Kembali lagi ke masalah pembentukan opini, opini lain yang cukup ilmiah untuk memberikan citra negatif adalah : Ikut demokrasi berarti telah mengikuti kemauan Barat, padahal dalam QS 2:120 Allah telah mengingatkan : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka.”

Opini tersebut walaupun dapat berupa nasihat tetapi tujuannya  untuk menggiring pemahaman umat bahwa berjuang di parlemen atau demokrasi adalah mengikuti kemauan Barat.

Sekali lagi, tanpa pemahaman kritis opini tersebut akan nampak benar, karena yang diungkap dalam opini adalah dhahir realita, yaitu memang realitanya Barat memanfaatkan demokrasi untuk dapat masuk ke pemerintahan-pemerintahan yang mayoritas rakyatnya adalah umat Islam, sementara itu sebagian besar umat Islam masuk ke dalam demokrasi untuk menghadang kemauan Barat, wajar dan tidak dapat disalahkan begitu saja bila orang-orang yang mengharamkan perjuangan melalui parlemen dan demokrasi menyimpulkan bahwa berjuang melalui parlemen dan demokrasi berarti telah mengikuti kemauan Barat, namun benarkah demikian ?

Dari beberapa kasus mulai mesir, Aljazair, Turki hingga Indonesia, Barat justru kebakaran jenggot bila ada partai Islam yang ingin berusaha memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam parlemen, kejadian terakhir di Turki menunjukkan hal tersebut, mereka orang-orang sekular melakukan demo besar-besaran bahkan terbesar di dunia untuk menjegal partai Islam di sana yang akan ikut pemilu, dan sangat kuat disinyalair demo tersebut tidak lepas dari keinginan dan pembiayaan Barat, begitu juga dengan di Indonesia beberapa tahun lalu, partai yang berusaha memasukkan nilai-nilai Islam dalam parlemen di opinikan terlibat jaringan teroris, tujuannya agar dapat menjegal partai tersebut dalam pemilu. Begitu juga di Aljazair ketika partai Islam akan menang, dan ingin menerapkan syariat Islam maka atas pesanan Barat militer Aljazair mengkudeta FIS. Jadi sangat tidak beralasan bila orang-orang yang berjuang di parlemen untuk memasukkan nilai-nilai Islam dikatakan telah mengikuti kemauan Barat, buktinya Barat justru kebakaran jenggot.

Kalau kita mau jujur, terhadap sikap pengharaman perjuangan di parlemen dan tidak menempuh fase-fase nyata dalam menghadapi Barat, justru akan membuat Barat senang dan berterima-kasih, karena tidak perlu repot-repot menjegal partai yang ingin memperjuangkan nilai-nilai Islam di parlemen, sudah ada yang membantunya untuk menjegal yaitu umat Islam sendiri, istilahnya memukul umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam dan tinggal nonton TV di gedung putih.

Jadi sebetulnya siapa yang telah mengikuti kemauan Barat dan menguntungkan barat, orang-orang yang berjuang di parlemen untuk menerapkan nilai-nilai Islam ataukah yang mengharamkannya tetapi tidak ada tindakan nyata untuk menghadapi Barat ?

Hati-hati menuduh perjuangan di parlemen sebagai mengikuti kemauan Barat tetapi tidak sadar dirinya sendiri telah membantu Barat, ini boomerang yang kedua.

Ada beberapa opini lain yang dapat menjadi boomerang bagi pembentuk opini itu sendiri misalnya dinyatakan membuat partai berarti telah berpecah belah, padahal Allah telah melarangnya, kalau sedikit kritis, masuk partai atau tidak hal itu dapat terjadi, cobalah amati orang-orang yang mengharamkan partai, mereka telah terpecah belah menjadi beberapa kelompok, ini juga boomerang. Dan masih banyak lagi opini-opini lain yang tidak mungkin di bahas satu persatu karena alasan keterbatasan ruang halaman dan takut membeberkan strategi perjuangan di parlemen, tetapi yang jelas dengan sedikit kritis, maka opini tersebut akan nyata dapat berlaku bagi yang diopinikan maupun bagi pembuat opini itu sendiri (menjadi boomerang) .

Oleh karena itu, kalau memang ada kesalahan mereka, alangkah baiknya bila diberi nasehat, bukan membuat opini negatif, kalau tidak bisa mendukung tidakkah jauh lebih bermanfaat segenap tenaga dan pikiran dicurahkan untuk perjuangan Islam dengan metode yang diyakini ? Siapa tahu nanti secara sinergi perjuangan di parlemen dapat kompatible dengan perjuangan di luar parlemen dalam menegakkan Islam. []

*sumber: islampos
:: pkspiyungan.org

Kisah Hakim Adil yang Memenangkan Nasrani melawan Khalifah Harun Ar Rasyid


Oleh Zulfi Akmal
Al-Azhar Cairo

Imam Abu Yusuf adalah salah seorang murid dan pewaris mazhab Abu Hanifah. Dan beliau adalah qadhil qudhah (hakim agung) di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid.

Beliau pernah mengadili antara Khalifah Harun Ar Rasyid dan seorang yang beragama Nashrani dalam satu sengketa yang terjadi di antara mereka berdua.

Dalam perkara itu Abu Yusuf memenangkan orang Nashrani, dan Harun pada pihak yang kalah. Karena memang terbukti kebenaran berpihak kepada orang Nashrani.

Ketika Abu Yusuf sudah hampir meninggal, beliau bermunajat:

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa aku sudah menduduki jabatan ini. Aku tidak pernah cenderung kepada salah seorang dari dua orang yang bersengketa walaupun di dalam hatiku.

Kecuali ketika seorang Nashrani bersengketa dengan Harun Ar Rasyid. Aku tidak menyamakan di antara mereka berdua dalam perasaan. Karena aku berharap di dalam hatiku supaya kebenaran berada di pihak Ar Rasyid, sekalipun akhirnya aku menangkan orang Nashrani itu, karena memang dia dalam posisi benar".

Kemudian beliau menangis.

Lihatlah kisah ini dengan penuh pentadabburan, bermacam pelajaran kita dapatkan. Di antaranya:

1. Betapa cemasnya Abu Yusuf atas tindakan tidak adil yang beliau lakukan, sekalipun hanya di dalam perasaan, dan tidak mempengaruhi kepada keputusan.

Barangkali bagi kita perkara biasa bila beliau lebih cenderung kepada Ar Rasyid yang muslim dari pada lawannya yang beragama Nashrani. Tapi tidak demikian dengan timbangan keadialan yang dipahami oleh Abu Yusuf.

Bila ukuran hakim adil itu seperti Abu Yusuf, bagaimana kira-kira dengan hakim-hakim yang ada sekarang ini?

Bagi yang berprofesi sebagai hakim atau bercita-cita menjadi hakim, sangat perlu menempelkan kisah Abu Yusuf ini di keningnya. Supaya jadi rem dan rambu-rambu ketika dia mengadili antara orang yang berkesumat.

2. Alangkah halusnya barometer dosa bagi seorang ulama sekaligus hakim seperti Abu Yusuf. Hanya bisikan di dalam hati yang tidak berdampak kepada perbuatan dianggap sebuah dosa yang akan memberatkan pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Alangkah bening dan bersihnya hati beliau.

Kita hari ini amat butuh kepada hakim-hakim adil seperti beliau yang mulia ini. Demi tegaknya keadialan dan kebenaran di permukaan bumi.

Semoga rahmat Allah selalu tercurah buat beliau dan setiap hakim adil serta kita semua.
:: pkspiyungan.org

Profile Tokoh

More on this category »

Video

More on this category »
 
::
© Copyright PKS Bogor 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.